Dīgha Nikāya · Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang
Suasana ajaran · ilustrasi pendamping, bukan bagian dari teks kanonik
KENALI DUNIA DN 18
Kenali dunia dalam sutta ini
Sutta ini mengajak kita merenungkan bagaimana ajaran Buddha tidak hanya untuk para bhikkhu, tetapi juga bagi umat awam yang hidup berkeyakinan dan bermoral. Mari kita simak bagaimana Sang Buddha menjawab keprihatinan Ānanda dan apa yang disampaikan oleh makhluk dari alam lain.
Di Nātika, Sang Buddha menjelaskan kelahiran kembali para umat awam di berbagai negeri. Ānanda prihatin karena nasib para umat Magadha, termasuk Raja Bimbisāra, belum dijelaskan. Setelah Ānanda menyampaikan hal ini, Sang Buddha merenungkan nasib mereka dan kemudian seorang yakkha bernama Janavasabha—yang ternyata adalah Raja Bimbisāra—muncul dan menyampaikan laporan tentang pertemuan para dewa Tāvatiṁsa, termasuk ajaran Brahmā Sanaṅkumāra tentang pencapaian spiritual dan nasib baik para umat Magadha.
Pengantar Tiga Keranjang · bukan bagian dari teks kanonik.
Selanjutnya, para mulia, ada seseorang yang tidak memahami sebagaimana adanya, ‘Ini adalah keterampilan,’ dan tidak memahami sebagaimana adanya, ‘Ini adalah ketidak-terampilan.’
Next, take someone who doesn’t truly understand what is skillful and what is unskillful,
Ia tidak memahami sebagaimana adanya, ‘Ini tercela, ini tidak tercela, ini patut dipraktikkan, ini tidak patut dipraktikkan, ini rendah, ini luhur, ini memiliki bagian gelap atau terang.’
what is blameworthy and what is blameless, what should be cultivated and what should not be cultivated, what is inferior and what is superior, and what has a portion of dark or bright.
Dengan mengandalkan mendengar ajaran para mulia, perenungan bijaksana, dan praktik sesuai dengan ajaran, ia memahami sebagaimana adanya, ‘Ini adalah keterampilan,’ dan memahami sebagaimana adanya, ‘Ini adalah ketidak-terampilan.’
They truly understand what is skillful and what is unskillful, and so on.
Ia memahami sebagaimana adanya, ‘Ini tercela, ini tidak tercela, ini patut dipraktikkan, ini tidak patut dipraktikkan, ini rendah, ini luhur, ini memiliki bagian gelap atau terang.’
Inilah, tuan-tuan, kesempatan ketiga untuk mencapai kebahagiaan yang telah dipahami oleh Bhagavā yang mengetahui, yang melihat, yang layak menerima penghormatan, yang tercerahkan sempurna.
This is the third opportunity for achieving happiness.
Ime kho, bho, tena bhagavatā jānatā passatā arahatā sammāsambuddhena tayo okāsādhigamā anubuddhā sukhassādhigamāyā”ti.
Inilah, tuan-tuan, tiga kesempatan untuk mencapai kebahagiaan yang telah dipahami oleh Bhagavā yang mengetahui, yang melihat, yang layak menerima penghormatan, yang tercerahkan sempurna.”
These are the three opportunities for achieving happiness that have been understood by the Buddha.”
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.