‹
DN 15

Mahānidānasutta

Mahānidānasutta — Khotbah Agung tentang Sebab-Akibat

Dīgha Nikāya · Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang

DN 15
Suasana ajaran · ilustrasi pendamping, bukan bagian dari teks kanonik
KENALI DUNIA DN 15

Kenali dunia dalam sutta ini

Sutta ini adalah salah satu khotbah terpenting tentang hukum sebab-akibat dalam ajaran Buddha. Meskipun terasa teknis, cobalah untuk mengikuti alur penalarannya yang berlapis—dari yang tampak sederhana hingga yang sangat dalam. Anda akan diajak untuk melihat bagaimana segala sesuatu saling terkait dan bagaimana pandangan tentang 'diri' hanyalah konstruksi yang tidak berdasar.

TOKOH & TEMPAT

Sinopsis singkat

Dalam Mahānidānasutta, Yang Mulia Ānanda mengungkapkan kekagumannya bahwa hukum kemunculan bergantungan tampak dangkal baginya, namun Sang Buddha menegaskan bahwa ajaran ini sangat dalam dan merupakan kunci untuk melampaui saṁsāra. Sang Buddha kemudian menguraikan secara terperinci rantai sebab-akibat dari usia tua dan kematian hingga kesadaran dan nama-dan-bentuk, saling bergantung satu sama lain. Setelah itu, Beliau membahas berbagai cara pandang tentang diri, tujuh landasan kesadaran, delapan pembebasan, dan memuncak pada penjelasan tentang dua jenis kebebasan tertinggi: kebebasan melalui kebijaksanaan dan kebebasan kedua cara.

Pengantar Tiga Keranjang · bukan bagian dari teks kanonik.
dn15:27.0

4. Attasamanupassanā

4. Pandangan tentang Diri

4. Regarding a Self

dn15:27.1

Kittāvatā ca, ānanda, attānaṁ samanupassamāno samanupassati?

Dan bagaimanakah, Ānanda, mereka yang merenungkan diri merenungkannya?

How do those who regard the self regard it?

dn15:27.2

Vedanaṁ vā hi, ānanda, attānaṁ samanupassamāno samanupassati:

Mereka, Ānanda, merenungkan perasaan sebagai diri:

They regard feeling as self:

dn15:27.3

‘vedanā me attā’ti.

‘Perasaan adalah diriku.’

‘Feeling is my self.’

dn15:27.4

‘Na heva kho me vedanā attā, appaṭisaṁvedano me attā’ti iti vā hi, ānanda, attānaṁ samanupassamāno samanupassati.

Atau mereka merenungkannya seperti ini: ‘Perasaan tentu bukan diriku; diriku tidak merasakan perasaan.’

Or they regard it like this: ‘Feeling is definitely not my self. My self does not experience feeling.’

dn15:27.5

‘Na heva kho me vedanā attā, nopi appaṭisaṁvedano me attā, attā me vediyati, vedanādhammo hi me attā’ti iti vā hi, ānanda, attānaṁ samanupassamāno samanupassati.

Atau mereka merenungkannya seperti ini: ‘Perasaan tentu bukan diriku, dan bukan pula bahwa diriku tidak merasakan perasaan; diriku merasakan, karena diriku bersifat merasakan.’

Or they regard it like this: ‘Feeling is definitely not my self. But it’s not that my self does not experience feeling. My self feels, for my self is liable to feel.’

TEKS DI TIGA KERANJANG
IndonesiaTersedia

Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.