Mahānidānasutta — Khotbah Agung tentang Sebab-Akibat
Dīgha Nikāya · Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang
Suasana ajaran · ilustrasi pendamping, bukan bagian dari teks kanonik
KENALI DUNIA DN 15
Kenali dunia dalam sutta ini
Sutta ini adalah salah satu khotbah terpenting tentang hukum sebab-akibat dalam ajaran Buddha. Meskipun terasa teknis, cobalah untuk mengikuti alur penalarannya yang berlapis—dari yang tampak sederhana hingga yang sangat dalam. Anda akan diajak untuk melihat bagaimana segala sesuatu saling terkait dan bagaimana pandangan tentang 'diri' hanyalah konstruksi yang tidak berdasar.
Dalam Mahānidānasutta, Yang Mulia Ānanda mengungkapkan kekagumannya bahwa hukum kemunculan bergantungan tampak dangkal baginya, namun Sang Buddha menegaskan bahwa ajaran ini sangat dalam dan merupakan kunci untuk melampaui saṁsāra. Sang Buddha kemudian menguraikan secara terperinci rantai sebab-akibat dari usia tua dan kematian hingga kesadaran dan nama-dan-bentuk, saling bergantung satu sama lain. Setelah itu, Beliau membahas berbagai cara pandang tentang diri, tujuh landasan kesadaran, delapan pembebasan, dan memuncak pada penjelasan tentang dua jenis kebebasan tertinggi: kebebasan melalui kebijaksanaan dan kebebasan kedua cara.
Pengantar Tiga Keranjang · bukan bagian dari teks kanonik.
"'Nama-dan-rupa adalah syarat bagi kontak'—demikianlah telah dikatakan. Dan, Ānanda, melalui cara ini pula hal itu harus dipahami, bagaimana nama-dan-rupa menjadi syarat bagi kontak."
‘Name and form are requirements for contact’—that’s what I said. And this is a way to understand how this is so.
"Ānanda, seandainya tidak ada bentuk-bentuk, ciri-ciri, tanda-tanda, dan perincian-perincian yang dengannya penamaan kelompok batin (nāma) dapat dikenali—apakah dengan tidak adanya bentuk-bentuk, ciri-ciri, tanda-tanda, dan perincian-perincian itu, kontak melalui penamaan pada kelompok fisik (rūpa) masih dapat dikenali?" "Tidak, Yang Mulia."
Suppose there were none of the features, attributes, signs, and details by which the set of mental phenomena known as name is found. Would labeling contact still be found in the set of physical phenomena?”
“Ānanda, seandainya tidak ada ciri-ciri, tanda-tanda, penanda, dan perincian yang menjadi dasar penetapan kelompok fenomena fisik yang disebut bentuk, apakah kontak melalui benturan masih dapat ditemukan pada kelompok fenomena mental?”
“Suppose there were none of the features, attributes, signs, and details by which the set of physical phenomena known as form is found. Would impingement contact still be found in the set of mental phenomena?”
“Yehi, ānanda, ākārehi …pe… yehi uddesehi nāmakāyassa ca rūpakāyassa ca paññatti hoti, tesu ākāresu …pe… tesu uddesesu asati api nu kho adhivacanasamphasso vā paṭighasamphasso vā paññāyethā”ti?
“Ānanda, seandainya tidak ada ciri-ciri, penanda, tanda, dan perincian yang menjadi dasar penetapan kelompok fenomena yang dikenal sebagai batin dan kelompok fenomena yang dikenal sebagai bentuk—apakah kontak melalui penamaan atau kontak melalui benturan masih dapat ditemukan?”
“Suppose there were none of the features, attributes, signs, and details by which the set of phenomena known as name and the set of phenomena known as form are found. Would either labeling contact or impingement contact still be found?”
“Yehi, ānanda, ākārehi …pe… yehi uddesehi nāmarūpassa paññatti hoti, tesu ākāresu …pe… tesu uddesesu asati api nu kho phasso paññāyethā”ti?
“Ānanda, seandainya tidak ada ciri-ciri, penanda, tanda, dan perincian yang menjadi dasar penetapan nama-dan-bentuk—apakah kontak masih dapat ditemukan?”
“Suppose there were none of the features, attributes, signs, and details by which name and form are found. Would contact still be found?”
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.
DN 15 · Mahānidānasutta — Khotbah Agung tentang Sebab-Akibat | Tiga Keranjang