Atha kho uggatasarīro brāhmaṇo bhagavantaṁ etadavoca:
Kemudian brahmana Uggatasarīra berkata kepada Sang Bhagavā:
Then Uggatasarīra said to the Buddha,
Api (Ke-2)
Sutta ini mengajak kita merenungkan ulang makna 'pengorbanan' dan 'api' dalam tradisi. Mari kita simak bagaimana Buddha mengubah perspektif brahmana dari ritual lahiriah menuju tanggung jawab batin dan sosial.
Brahmana Uggatasarīra mendatangi Buddha untuk membenarkan rencana pengorbanan besarnya. Buddha mengajarkan bahwa sebelum api pengorbanan dinyalakan, seseorang telah menegakkan tiga 'pisau' tidak terampil—pikiran, ucapan, dan tindakan—yang justru membawa penderitaan. Buddha kemudian mengalihkan makna 'api' dari ritual fisik menjadi tiga api batin yang harus dipadamkan (nafsu, kebencian, delusi) dan tiga api yang harus dirawat: orang tua, keluarga, dan para petapa. Brahmana itu akhirnya melepaskan semua hewan kurban dan berlindung kepada Buddha.
Atha kho uggatasarīro brāhmaṇo bhagavantaṁ etadavoca:
Kemudian brahmana Uggatasarīra berkata kepada Sang Bhagavā:
Then Uggatasarīra said to the Buddha,
“ahañhi, bho gotama, aggiṁ ādātukāmo yūpaṁ ussāpetukāmo.
“Sesungguhnya, Guru Gotama, aku ingin menyalakan api pengorbanan dan mendirikan tiang pengorbanan.
“Worthy Gotama, I want to kindle the sacrificial fire and raise the sacrificial post.
Ovadatu maṁ bhavaṁ gotamo.
Sudilah Guru Gotama menasihatiku.
May the worthy Gotama please advise
Anusāsatu maṁ bhavaṁ gotamo yaṁ mama assa dīgharattaṁ hitāya sukhāyā”ti.
Sudilah Guru Gotama memberi petunjuk kepadaku demi kebaikan dan kebahagiaanku yang langgeng.”
and instruct me. It will be for my lasting welfare and happiness.”
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.