Yathāpi udake jātaṁ,
Bagaikan teratai putih,
A white lotus,
Sutta Nāga (Gajah Agung)
Sutta ini dimulai dengan pemandangan sehari-hari di kota kuno, tetapi dengan cepat berubah menjadi perenungan mendalam tentang makna kebesaran sejati. Mari kita simak bagaimana Buddha menggunakan peristiwa sederhana untuk menyampaikan ajaran yang dalam, dan bagaimana Udāyī merayakannya dengan syair-syair yang indah dan penuh makna.
Suatu hari, setelah mandi di gerbang timur Sāvatthī, Sang Buddha dan para bhikkhu menyaksikan gajah raja Pasenadi yang megah, bernama Seto, lewat dengan iring-iringan musik. Ketika orang-orang memuji keagungan fisik gajah tersebut, Yang Mulia Udāyī bertanya apakah sebutan 'nāga' (gajah agung) hanya untuk makhluk berbadan besar. Buddha menjawab bahwa dalam ajarannya, seorang 'nāga' sejati adalah seseorang yang tidak melakukan perbuatan jahat melalui tubuh, ucapan, dan pikiran. Sutta ini kemudian diperkaya dengan syair-syair pujian dari Yang Mulia Udāyī yang menguraikan kualitas-kualitas seorang 'nāga' sejati, menggunakan metafora bagian-bagian tubuh gajah untuk menggambarkan sifat-sifat luhur seorang bhikkhu yang telah mencapai kesempurnaan batin.
Yathāpi udake jātaṁ,
Bagaikan teratai putih,
A white lotus,
puṇḍarīkaṁ pavaḍḍhati;
bunga puṇḍarīka yang harum dan indah,
fragrant and delightful,
Nupalippati toyena,
tumbuh di air dan berkembang di sana,
sprouts in water and grows there,
sucigandhaṁ manoramaṁ.
harum semerbak, memikat hati.
but water does not stick to it.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.