Saddhā, bhikkhave, upāsikā evaṁ sammā āyācamānā āyāceyya:
Para bhikkhu, seorang umat awam perempuan yang berkeyakinan, jika beraspirasi dengan benar, hendaknya beraspirasi:
A faithful laywoman would rightly aspire:
Sutta tentang Aspirasi
Sutta ini mengajak kita merenungkan pentingnya memiliki teladan yang baik dalam perjalanan spiritual. Mari kita simak bagaimana Sang Buddha menunjukkan figur-figur yang patut dijadikan panutan bagi setiap kelompok pengikut-Nya.
Dalam sutta ini, Sang Buddha memberikan panduan tentang aspirasi yang benar bagi para pengikutnya. Beliau menyebutkan teladan-teladan utama di antara para bhikkhu, bhikkhunī, umat awam laki-laki, dan umat awam perempuan, serta menegaskan bahwa mereka adalah standar dan ukuran bagi para siswa-Nya.
Saddhā, bhikkhave, upāsikā evaṁ sammā āyācamānā āyāceyya:
Para bhikkhu, seorang umat awam perempuan yang berkeyakinan, jika beraspirasi dengan benar, hendaknya beraspirasi:
A faithful laywoman would rightly aspire:
‘tādisā homi yādisā khujjuttarā ca upāsikā veḷukaṇḍakiyā ca nandamātā’ti.
‘Semoga aku menjadi seperti umat awam perempuan Khujjuttarā dan Veḷukaṇṭakī, ibu Nanda!’
‘May I be like the laywomen Khujjuttarā and Veḷukaṇṭakī, Nanda’s mother!’
Esā, bhikkhave, tulā etaṁ pamāṇaṁ mama sāvikānaṁ upāsikānaṁ, yadidaṁ khujjuttarā ca upāsikā veḷukaṇḍakiyā ca nandamātā”ti.
Para bhikkhu, inilah standar dan ukuran bagi para umat awam perempuan siswi-Ku, yaitu umat awam perempuan Khujjuttarā dan Veḷukaṇṭakī, ibu Nanda.”
These are a standard and a measure for my female lay disciples, that is, the laywomen Khujjuttarā and Veḷukaṇṭakī, Nanda’s mother.”
Chaṭṭhaṁ.
Ke enam.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.