Saddho, bhikkhave, upāsako evaṁ sammā āyācamāno āyāceyya:
Para bhikkhu, seorang umat awam laki-laki yang berkeyakinan, jika beraspirasi dengan benar, hendaknya beraspirasi:
A faithful layman would rightly aspire:
Sutta tentang Aspirasi
Sutta ini mengajak kita merenungkan pentingnya memiliki teladan yang baik dalam perjalanan spiritual. Mari kita simak bagaimana Sang Buddha menunjukkan figur-figur yang patut dijadikan panutan bagi setiap kelompok pengikut-Nya.
Dalam sutta ini, Sang Buddha memberikan panduan tentang aspirasi yang benar bagi para pengikutnya. Beliau menyebutkan teladan-teladan utama di antara para bhikkhu, bhikkhunī, umat awam laki-laki, dan umat awam perempuan, serta menegaskan bahwa mereka adalah standar dan ukuran bagi para siswa-Nya.
Saddho, bhikkhave, upāsako evaṁ sammā āyācamāno āyāceyya:
Para bhikkhu, seorang umat awam laki-laki yang berkeyakinan, jika beraspirasi dengan benar, hendaknya beraspirasi:
A faithful layman would rightly aspire:
‘tādiso homi yādiso citto ca gahapati hatthako ca āḷavako’ti.
‘Semoga aku menjadi seperti perumah tangga Citta dan Hatthaka dari Āḷavī!’
‘May I be like the householder Citta and Hatthaka of Āḷavī!’
Esā, bhikkhave, tulā etaṁ pamāṇaṁ mama sāvakānaṁ upāsakānaṁ, yadidaṁ citto ca gahapati hatthako ca āḷavako.
Para bhikkhu, inilah standar dan ukuran bagi para umat awam laki-laki siswa-Ku, yaitu perumah tangga Citta dan Hatthaka dari Āḷavī.
These are a standard and a measure for my male lay disciples, that is, the householder Citta and Hatthaka of Āḷavī.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.