an11.20:2.1 “Bisakah, sahabat Sāriputta, seorang bhikkhu memperoleh pencapaian konsentrasi sedemikian rupa sehingga ia tidak menganggap tanah sebagai tanah, air sebagai air, api sebagai api, atau angin sebagai angin; dan ia tidak menganggap landasan ruang tanpa batas sebagai landasan ruang tanpa batas, landasan kesadaran tanpa batas sebagai landasan kesadaran tanpa batas, landasan kekosongan sebagai landasan kekosongan, atau landasan bukan persepsi maupun bukan non-persepsi sebagai landasan bukan persepsi maupun bukan non-persepsi; ia tidak menganggap dunia ini sebagai dunia ini, atau dunia lain sebagai dunia lain; dan apa pun yang dilihat, didengar, dirasakan, diketahui, dicapai, dicari, atau dijelajahi oleh pikiran, terhadap itu pun ia tidak memiliki persepsi; namun ia tetap memiliki persepsi?”
an11.20:2.2 “Bisa, sahabat-sahabat, seorang bhikkhu memperoleh pencapaian konsentrasi sedemikian rupa sehingga ia tidak menganggap tanah sebagai tanah, air sebagai air, api sebagai api, atau angin sebagai angin; dan ia tidak menganggap landasan ruang tanpa batas sebagai landasan ruang tanpa batas, landasan kesadaran tanpa batas sebagai landasan kesadaran tanpa batas, landasan kekosongan sebagai landasan kekosongan, atau landasan bukan persepsi maupun bukan non-persepsi sebagai landasan bukan persepsi maupun bukan non-persepsi; ia tidak menganggap dunia ini sebagai dunia ini, atau dunia lain sebagai dunia lain; dan apa pun yang dilihat, didengar, dirasakan, diketahui, dicapai, dicari, atau dijelajahi oleh pikiran, terhadap itu pun ia tidak memiliki persepsi; namun ia tetap memiliki persepsi.”
