an10.89:15.1 “Bhante, mungkinkah diberikan sebuah perumpamaan?”
an10.89:15.2 “Mungkin saja, bhikkhu,” kata Sang Bhagavā.
an10.89:15.3 “Misalkan, bhikkhu, ada muatan biji wijen Kosala sebanyak dua puluh karung. Kemudian seseorang setiap seratus tahun mengambil satu biji wijen.
an10.89:15.4 Muatan biji wijen Kosala sebanyak dua puluh karung itu, bhikkhu, akan lebih cepat habis dan lenyap dengan cara ini, tetapi satu kehidupan di neraka Abbuda belum berakhir.
an10.89:15.5 Sekarang, bhikkhu, dua puluh kehidupan di neraka Abbuda sama dengan satu kehidupan di neraka Nirabbuda.
an10.89:15.6 Dua puluh kehidupan di neraka Nirabbuda sama dengan satu kehidupan di neraka Ababa.
an10.89:15.7 Dua puluh kehidupan di neraka Ababa sama dengan satu kehidupan di neraka Aṭaṭa.
an10.89:15.8 Dua puluh kehidupan di neraka Aṭaṭa sama dengan satu kehidupan di neraka Ahaha.
an10.89:15.9 Dua puluh kehidupan di neraka Ahaha sama dengan satu kehidupan di neraka Kumuda (Teratai Kuning).
an10.89:15.10 Dua puluh kehidupan di neraka Kumuda sama dengan satu kehidupan di neraka Sogandhika (Teratai Air Wangi).
an10.89:15.11 Dua puluh kehidupan di neraka Sogandhika sama dengan satu kehidupan di neraka Uppalaka (Teratai Air Biru).
an10.89:15.12 Dua puluh kehidupan di neraka Uppalaka sama dengan satu kehidupan di neraka Puṇḍarīka (Teratai Putih).
an10.89:15.13 Dua puluh kehidupan di neraka Puṇḍarīka sama dengan satu kehidupan di neraka Paduma (Teratai Merah Muda).
an10.89:15.14 Dan, bhikkhu, bhikkhu Kokālika telah terlahir di neraka Paduma karena ia membangkitkan kebencian dalam batinnya terhadap Sāriputta dan Moggallāna.”
an10.89:15.15 Demikianlah yang dikatakan oleh Sang Bhagavā.
an10.89:15.16 Setelah berkata demikian, Yang Sempurna, Sang Guru, kemudian bersabda lebih lanjut:


