Ada saat ketika seorang bhikkhu berlatih demikian: ‘Aku akan menarik napas dengan merenungkan ketidak-kekalan.’ Mereka berlatih demikian: ‘Aku akan mengembuskan napas dengan merenungkan ketidak-kekalan.’
There’s a time when a mendicant practices like this: ‘I’ll breathe in observing impermanence.’ They practice like this: ‘I’ll breathe out observing impermanence.’
Mereka berlatih demikian: ‘Aku akan menarik napas dengan merenungkan pelepasan.’ Mereka berlatih demikian: ‘Aku akan mengembuskan napas dengan merenungkan pelepasan.’
They practice like this: ‘I’ll breathe in observing letting go.’ They practice like this: ‘I’ll breathe out observing letting go.’
Pada saat itu, Ānanda, seorang bhikkhu berdiam dengan merenungkan aspek prinsip-prinsip dalam prinsip-prinsip—tekun, sadar penuh, dan waspada, setelah melenyapkan ketamakan dan ketidak-senangan terhadap dunia.
At such a time a mendicant is meditating by observing an aspect of principles—keen, aware, and mindful, rid of covetousness and displeasure for the world.
Oleh karena itu, Ānanda, pada saat itu seorang bhikkhu berdiam dengan merenungkan aspek prinsip-prinsip dalam prinsip-prinsip—tekun, sadar penuh, dan waspada, setelah melenyapkan ketamakan dan ketidak-senangan terhadap dunia.
Therefore, at such a time a mendicant is meditating by observing an aspect of principles—keen, aware, and mindful, rid of covetousness and displeasure for the world.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.
SN 54.10 · Khotbah dengan Kimbila | Tiga Keranjang