sn48.40:3.1 Kemudian, para bhikkhu, ketika seorang bhikkhu berdiam dengan tekun, bersemangat, dan bertekad, muncullah indria kebahagiaan.
sn48.40:3.2 Ia memahami demikian:
sn48.40:3.3 ‘Indria kebahagiaan telah muncul dalam diriku. Dan itu memiliki dasar, sumber, bentukan, dan kondisi.
sn48.40:3.4 Tidaklah mungkin bahwa indria kebahagiaan akan muncul tanpa dasar, tanpa sumber, tanpa bentukan, atau tanpa kondisi.’
sn48.40:3.5 Ia memahami indria kebahagiaan, ia memahami asal-mula indria kebahagiaan, ia memahami lenyapnya indria kebahagiaan, dan ia memahami di mana indria kebahagiaan yang telah muncul itu berhenti tanpa sisa.
sn48.40:3.6 Dan di manakah indria kebahagiaan yang telah muncul itu berhenti tanpa sisa?
sn48.40:3.7 Di sini, para bhikkhu, dengan meluruhnya sukacita, seorang bhikkhu berdiam dengan keseimbangan, dengan penuh perhatian dan kewaspadaan, dan merasakan kebahagiaan pada tubuh, yang oleh para mulia dikatakan: ‘Seimbang, penuh perhatian, berdiam dalam kebahagiaan’—ia memasuki dan berdiam dalam jhāna ketiga.
sn48.40:3.8 Di sinilah indria kebahagiaan yang telah muncul itu berhenti tanpa sisa.
sn48.40:3.9 Ini disebut, para bhikkhu, ‘seorang bhikkhu yang memahami lenyapnya indria kebahagiaan, dan yang mengarahkan pikirannya untuk tujuan itu’.”