sn47.10:6.1 Dalam empat hal apakah itu?
sn47.10:6.2 Di sini, Ānanda, seorang bhikkhu berdiam dengan merenungkan tubuh sebagai tubuh—tekun, sadar penuh, dan waspada, setelah melenyapkan ketamakan dan ketidak-senangan terhadap dunia.
sn47.10:6.3 Ketika ia berdiam merenungkan tubuh sebagai tubuh, muncullah panas yang menyengat dalam tubuh, atau kelambanan batin, atau pikiran yang teralihkan ke luar.
sn47.10:6.4 Maka, Ānanda, bhikkhu itu harus mengarahkan pikirannya pada suatu objek yang menenangkan sebagai landasan meditasi.
sn47.10:6.5 Ketika ia mengarahkan pikirannya pada objek yang menenangkan itu, muncullah kegembiraan.
sn47.10:6.6 Pada yang bergembira, muncullah sukacita.
sn47.10:6.7 Ketika pikiran dipenuhi sukacita, tubuh menjadi tenang.
sn47.10:6.8 Ketika tubuh tenang, ia merasakan kebahagiaan.
sn47.10:6.9 Dan ketika bahagia, pikirannya menjadi terkonsentrasi dalam samādhi.
sn47.10:6.10 Kemudian ia merenungkan:
sn47.10:6.11 ‘Tujuan yang karenanya aku mengarahkan pikiranku telah tercapai.
sn47.10:6.12 Sekarang, marilah aku melepaskannya.’
sn47.10:6.13 Ia melepaskan, dan tidak lagi mengarahkan pikiran atau memelihara pikiran.
sn47.10:6.14 Ia memahami: ‘Aku tidak mengarahkan pikiran, tidak memelihara pikiran, waspada dalam batin, dan aku berbahagia.’