sn45.98-102:1.1 “Para bhikkhu, bagaikan sungai Yamunā yang mengalir, melandai, dan condong ke samudra;
sn45.98-102:1.2 demikian pula, para bhikkhu, seorang bhikkhu …
sn45.98-102:1.3 “… sungai Aciravatī …”
sn45.98-102:1.4 demikian pula, para bhikkhu, seorang bhikkhu …
sn45.98-102:1.5 “… sungai Sarabhū …”
sn45.98-102:1.6 demikian pula, para bhikkhu, seorang bhikkhu …
sn45.98-102:1.7 “… sungai Mahī …”
sn45.98-102:1.8 demikian pula, para bhikkhu, seorang bhikkhu …
sn45.98-102:1.9 “… semua sungai besar …”
sn45.98-102:1.10 yaitu Gangga, Yamunā, Aciravatī, Sarabhū, Mahī—semuanya mengalir, melandai, dan condong ke samudra;
sn45.98-102:1.11 demikian pula, para bhikkhu, seorang bhikkhu yang mengembangkan Jalan Mulia Berunsur Delapan dan melatihnya berulang-ulang akan menjadi condong, melandai, dan cenderung ke arah Nibbāna.
sn45.98-102:1.12 Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seorang bhikkhu yang mengembangkan Jalan Mulia Berunsur Delapan dan melatihnya berulang-ulang menjadi condong, melandai, dan cenderung ke arah Nibbāna?
sn45.98-102:1.13 Di sini, para bhikkhu, seorang bhikkhu mengembangkan pandangan benar yang bersandar pada keterasingan, bersandar pada kebosanan, bersandar pada lenyapnya, dan mengarah pada pelepasan … ia mengembangkan konsentrasi benar yang bersandar pada keterasingan, bersandar pada kebosanan, bersandar pada lenyapnya, dan mengarah pada pelepasan.
sn45.98-102:1.14 Demikianlah, para bhikkhu, seorang bhikkhu yang mengembangkan Jalan Mulia Berunsur Delapan dan melatihnya berulang-ulang menjadi condong, melandai, dan cenderung ke arah Nibbāna.”
sn45.98-102:1.15 Keenam.
sn45.98-102:1.16 Babak Teks Ringkas tentang Sungai Gangga.