sn45.160:1.1 “Para bhikkhu, misalnya sungai Gangga ini condong, miring, dan cenderung ke arah timur.
sn45.160:1.2 Kemudian datanglah sekelompok besar orang dengan membawa sekop dan keranjang, berkata:
sn45.160:1.3 ‘Kami akan membuat sungai Gangga ini condong, miring, dan cenderung ke arah barat!’
sn45.160:1.4 Bagaimana menurut kalian, para bhikkhu,
sn45.160:1.5 mungkinkah sekelompok besar orang itu dapat membuat sungai Gangga condong, miring, dan cenderung ke arah barat?”
sn45.160:1.6 “Tidak mungkin, Bhante.”
sn45.160:1.7 “Apakah sebabnya?”
sn45.160:1.8 “Sungai Gangga, Bhante, condong, miring, dan cenderung ke arah timur.
sn45.160:1.9 Tidaklah mudah untuk membuatnya condong, miring, dan cenderung ke arah barat.
sn45.160:1.10 Sekelompok besar orang itu hanya akan memperoleh kelelahan dan kekecewaan.”
sn45.160:1.11 “Demikian pula, para bhikkhu, ketika seorang bhikkhu sedang mengembangkan dan melatih jalan mulia berunsur delapan, jika para raja atau menteri utama raja, atau teman, atau kolega, atau kerabat, atau sanak saudara mengundangnya untuk menerima kekayaan, dengan berkata:
sn45.160:1.12 ‘Marilah, Tuan, mengapa jubah kuning ini menyusahkanmu?
sn45.160:1.13 Mengapa engkau mengembara dengan kepala tercukur dan membawa mangkuk?
sn45.160:1.14 Marilah, kembalilah ke kehidupan rendah, nikmati kekayaan, dan lakukan kebajikan!’
sn45.160:1.15 Adalah mustahil, para bhikkhu, bagi seorang bhikkhu yang sedang mengembangkan dan melatih jalan mulia berunsur delapan untuk melepaskan latihan dan kembali ke kehidupan rendah.
sn45.160:1.16 Apakah sebabnya?
sn45.160:1.17 Karena, para bhikkhu, pikiran bhikkhu itu sejak lama telah condong, miring, dan cenderung pada keterasingan. Maka mustahil baginya untuk kembali ke kehidupan rendah.”
sn45.160:1.18 Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seorang bhikkhu mengembangkan jalan mulia berunsur delapan dan melatihnya secara berulang-ulang?
sn45.160:1.19 Di sini, para bhikkhu, seorang bhikkhu mengembangkan pandangan benar yang bersandar pada keterasingan, yang bersandar pada kebosanan, yang bersandar pada lenyapnya, yang matang dalam pelepasan … ia mengembangkan konsentrasi benar yang bersandar pada keterasingan, yang bersandar pada kebosanan, yang bersandar pada lenyapnya, yang matang dalam pelepasan.
sn45.160:1.20 Demikianlah, para bhikkhu, seorang bhikkhu mengembangkan jalan mulia berunsur delapan dan melatihnya secara berulang-ulang.”
sn45.160:1.21 (Apa pun yang harus dilakukan dengan kekuatan, hendaknya diuraikan secara terperinci.)
sn45.160:1.22 Yang kedua belas.
sn45.160:1.23 Bab tentang Kekuatan, yang keenam.