sn42.13:28.1 Kemudian, kepala desa, siswa mulia itu yang telah bebas dari keinginan, bebas dari niat buruk, tidak bingung, sadar, dan penuh perhatian, berdiam dengan meliputi satu arah dengan pikiran yang dipenuhi keseimbangan, demikian pula arah kedua, demikian pula arah ketiga, demikian pula arah keempat. Demikian pula ke atas, ke bawah, ke samping, di mana-mana, di seluruh dunia, ia berdiam dengan meliputi seluruh dunia dengan pikiran yang dipenuhi keseimbangan—yang melimpah, agung, tanpa batas, bebas dari permusuhan dan niat buruk.
sn42.13:28.2 Ia merenungkan demikian:
sn42.13:28.3 ‘Guru ini yang berkata demikian dan berpendirian demikian:
sn42.13:28.4 “Tidak ada pemberian, tidak ada persembahan, tidak ada korban, tidak ada buah dan akibat dari perbuatan baik dan buruk, tidak ada dunia ini, tidak ada dunia lain, tidak ada ibu, tidak ada ayah, tidak ada makhluk yang lahir spontan, tidak ada di dunia ini para petapa dan brahmana yang telah mencapai jalan yang benar dan berlatih dengan benar, yang setelah mengetahui dan menyaksikan sendiri dunia ini dan dunia lain, lalu mengajarkannya.”
sn42.13:28.5 Jika perkataan guru yang mulia itu benar, maka aku telah berada di sisi yang pasti benar, karena aku tidak menyakiti makhluk apa pun, baik yang bergetar maupun yang diam.
sn42.13:28.6 Dalam hal ini, aku memperoleh keuntungan ganda: bahwa aku terkendali dalam tubuh, terkendali dalam ucapan, terkendali dalam pikiran, dan bahwa setelah hancurnya tubuh, setelah kematian, aku akan terlahir kembali di alam tujuan baik, alam surga.’
sn42.13:28.7 Kegembiraan muncul dalam dirinya.
sn42.13:28.8 Setelah bergembira, muncullah sukacita.
sn42.13:28.9 Ketika pikiran dipenuhi sukacita, tubuh menjadi tenang.
sn42.13:28.10 Ketika tubuh tenang, ia merasakan kebahagiaan.
sn42.13:28.11 Dan ketika bahagia, pikirannya menjadi terpusat dalam samādhi.
sn42.13:28.12 Ini, kepala desa, adalah konsentrasi Dhamma.
sn42.13:28.13 Jika engkau dapat mencapai konsentrasi pikiran ini, maka engkau akan melepaskan keragu-raguan ini.