sn41.1:4.1 “Yang Mulia, ‘belenggu’ dan ‘hal-hal yang membelenggu’: kedua hal ini berbeda makna dan berbeda pula kata-katanya.
sn41.1:4.2 Baiklah, Yang Mulia, saya akan memberikan sebuah perumpamaan.
sn41.1:4.3 Sebab melalui perumpamaan, sebagian orang bijaksana dapat memahami makna dari apa yang dikatakan.
sn41.1:4.4 Misalkan, Yang Mulia, ada seekor sapi jantan hitam dan seekor sapi jantan putih yang diikat dengan satu tali atau satu kekang.
sn41.1:4.5 Jika seseorang berkata:
sn41.1:4.6 ‘Sapi jantan hitam adalah belenggu bagi sapi jantan putih, sapi jantan putih adalah belenggu bagi sapi jantan hitam’—apakah ia berkata dengan benar?”
sn41.1:4.7 “Tidak demikian, perumah tangga.
sn41.1:4.8 Sapi jantan hitam bukanlah belenggu bagi sapi jantan putih, dan sapi jantan putih bukanlah belenggu bagi sapi jantan hitam;
sn41.1:4.9 melainkan tali atau kekang yang mengikat keduanya itulah belenggu di sana.”
sn41.1:4.10 “Demikian pula, Yang Mulia, mata bukanlah belenggu bagi bentuk-bentuk, dan bentuk-bentuk bukanlah belenggu bagi mata;
sn41.1:4.11 melainkan keinginan dan nafsu yang muncul dengan bergantung pada keduanya itulah belenggu di sana.
sn41.1:4.12 Telinga bukanlah belenggu bagi suara-suara …
sn41.1:4.13 hidung bukanlah belenggu bagi bau-bauan …
sn41.1:4.14 lidah bukanlah belenggu bagi rasa-rasa …
sn41.1:4.15 tubuh bukanlah belenggu bagi sentuhan-sentuhan, dan sentuhan-sentuhan bukanlah belenggu bagi tubuh;
sn41.1:4.16 melainkan keinginan dan nafsu yang muncul dengan bergantung pada keduanya itulah belenggu di sana.”
sn41.1:4.17 Pikiran bukanlah belenggu bagi gagasan, dan gagasan bukanlah belenggu bagi pikiran;
sn41.1:4.18 tetapi keinginan dan nafsu yang muncul bergantung pada keduanya itulah belenggu di sana.”
sn41.1:4.19 “Suatu keuntungan bagimu, perumah tangga, sungguh suatu perolehan baik bagimu, perumah tangga,
sn41.1:4.20 bahwa engkau dapat menembus ajaran mendalam Sang Buddha dengan mata kebijaksanaan.”
sn41.1:4.21 Pertama.