sn4.24:8.1 “Yang Mulia, misalkan ada sebuah kolam teratai tidak jauh dari sebuah desa atau kota.
sn4.24:8.2 Di sana hiduplah seekor kepiting.
sn4.24:8.3 Kemudian, Yang Mulia, sejumlah anak laki-laki atau perempuan keluar dari desa atau kota itu dan mendatangi kolam tersebut; setelah tiba, mereka mengangkat kepiting itu dari air dan menaruhnya di tanah yang kering.
sn4.24:8.4 Setiap kali kepiting itu menjulurkan capitnya, anak-anak itu akan mematahkan, meremukkan, dan menghancurkannya dengan kayu atau batu.
sn4.24:8.5 Demikianlah, Yang Mulia, ketika semua capit kepiting itu telah dipatahkan, diremukkan, dan dihancurkan, ia tidak mampu lagi kembali turun ke dalam kolam teratai itu.
sn4.24:8.6 Demikian pula, Yang Mulia, segala tipu daya, kelicikan, dan gerak mengelakku semuanya telah dipatahkan, diremukkan, dan dihancurkan oleh Bhagavā.
sn4.24:8.7 Kini aku tidak mampu lagi mendekati Bhagavā, yaitu dengan harapan mencari celah.”
sn4.24:8.8 Kemudian Māra si Jahat mengucapkan syair-syair kekecewaan ini di hadapan Bhagavā: