sn35.90:1.1 “Para bhikkhu, kekacauan adalah penyakit, kekacauan adalah bisul, kekacauan adalah anak panah.
sn35.90:1.2 Oleh karena itu, para bhikkhu, Sang Tathāgata berdiam tanpa kekacauan, dengan anak panah dicabut.
sn35.90:1.3 Oleh karena itu, para bhikkhu, jika seorang bhikkhu menginginkan: ‘Semoga aku berdiam tanpa kekacauan, dengan anak panah dicabut,’
sn35.90:1.4 maka ia seharusnya tidak menganggap mata, tidak menganggap dalam mata, tidak menganggap sebagai mata, tidak menganggap ‘mata adalah milikku’;
sn35.90:1.5 tidak menganggap bentuk-bentuk, tidak menganggap dalam bentuk-bentuk, tidak menganggap sebagai bentuk-bentuk, tidak menganggap ‘bentuk-bentuk adalah milikku’;
sn35.90:1.6 tidak menganggap kesadaran mata, tidak menganggap dalam kesadaran mata, tidak menganggap sebagai kesadaran mata, tidak menganggap ‘kesadaran mata adalah milikku’;
sn35.90:1.7 tidak menganggap kontak mata, tidak menganggap dalam kontak mata, tidak menganggap sebagai kontak mata, tidak menganggap ‘kontak mata adalah milikku’.
sn35.90:1.8 Dan apa pun yang muncul bergantung pada kontak mata—apakah perasaan yang menyenangkan, menyakitkan, atau bukan menyenangkan maupun menyakitkan—itu pun tidak boleh dianggap, tidak boleh dianggap di dalamnya, tidak boleh dianggap sebagai itu, dan tidak boleh dianggap ‘itu adalah milikku’.