sn35.63:2.1 “Migajāla, ada bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata, yang disukai, diinginkan, menyenangkan, disayangi, berhubungan dengan nafsu, dan menggoda.
sn35.63:2.2 Jika seorang bhikkhu menyetujui, menyambut, dan terus melekat padanya,
sn35.63:2.3 maka baginya yang menyetujui, menyambut, dan terus melekat itu, muncullah kegembiraan.
sn35.63:2.4 Dengan adanya kegembiraan, ada nafsu;
sn35.63:2.5 dengan adanya nafsu, ada belenggu.
sn35.63:2.6 Seorang bhikkhu yang terbelenggu oleh belenggu kegembiraan, Migajāla, disebut berdiam dengan pasangan.
sn35.63:2.7 … Ada suara-suara … bau-bauan … rasa-rasa kecapan … sentuhan-sentuhan …
sn35.63:2.8 Migajāla, ada objek-objek pikiran yang dikenali oleh pikiran, yang disukai, diinginkan, menyenangkan, disayangi, berhubungan dengan nafsu, dan menggoda.
sn35.63:2.9 Jika seorang bhikkhu menyetujui, menyambut, dan terus melekat padanya,
sn35.63:2.10 maka baginya yang menyetujui, menyambut, dan terus melekat itu, muncullah kegembiraan.
sn35.63:2.11 Dengan adanya kegembiraan, ada nafsu;
sn35.63:2.12 dengan adanya nafsu, ada belenggu.
sn35.63:2.13 Seorang bhikkhu yang terbelenggu oleh kemenikmatan, Migajāla, dikatakan berdiam dengan pasangan.
sn35.63:2.14 Dan seorang bhikkhu yang berdiam demikian, Migajāla, walaupun ia menempati tempat-tempat tinggal yang terpencil di hutan belantara dan rimba, yang sepi, sunyi, terasing dari keramaian manusia, cocok untuk bertapa menyendiri,
sn35.63:2.15 namun ia tetap disebut berdiam dengan pasangan.
sn35.63:2.16 Apakah sebabnya?
sn35.63:2.17 Karena nafsu keinginan (taṇhā) adalah pasangannya, dan ia belum melepaskannya.
sn35.63:2.18 Oleh karena itu ia disebut berdiam dengan pasangan.