sn35.4:1.1 “Para bhikkhu, bentuk-bentuk adalah tidak kekal.
sn35.4:1.2 Apa yang tidak kekal adalah penderitaan;
sn35.4:1.3 apa yang merupakan penderitaan adalah bukan diri.
sn35.4:1.4 Dan apa yang bukan diri harus dilihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar demikian: ‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.’
sn35.4:1.5 Suara-suara …
sn35.4:1.6 bau-bauan …
sn35.4:1.7 rasa-rasa …
sn35.4:1.8 sentuhan-sentuhan …
sn35.4:1.9 dan pikiran-pikiran adalah tidak kekal.
sn35.4:1.10 Apa yang tidak kekal adalah penderitaan;
sn35.4:1.11 apa yang merupakan penderitaan adalah bukan diri.
sn35.4:1.12 Dan apa yang bukan diri harus dilihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar demikian: ‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.’
sn35.4:1.13 Dengan melihat demikian, para bhikkhu, siswa mulia yang terpelajar menjadi bosan terhadap bentuk-bentuk, bosan terhadap suara-suara, bosan terhadap bau-bauan, bosan terhadap rasa-rasa, bosan terhadap sentuhan-sentuhan, dan bosan terhadap pikiran-pikiran.
sn35.4:1.14 Dengan menjadi bosan, ia menjadi tidak bernafsu; karena tidak bernafsu, ia terbebaskan; ketika terbebaskan, muncullah pengetahuan: ‘Terbebaskan.’
sn35.4:1.15 Ia memahami: ‘Kelahiran telah berakhir, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak ada lagi yang tersisa untuk kehidupan ini.’”
sn35.4:1.16 Keempat.