sn35.32:28.1 “Dengan melihat demikian, para bhikkhu, siswa mulia yang terpelajar menjadi jemu terhadap mata, jemu terhadap bentuk-bentuk, jemu terhadap kesadaran mata, dan jemu terhadap kontak mata.
sn35.32:28.2 Perasaan apa pun yang muncul dengan kontak mata sebagai kondisi—apakah menyenangkan, menyakitkan, atau netral—terhadap itu pun ia menjadi jemu …
sn35.32:28.3 Ia menjadi jemu terhadap lidah, terhadap rasa-rasa … perasaan apa pun yang muncul dengan kontak lidah sebagai kondisi—apakah menyenangkan, menyakitkan, atau netral—terhadap itu pun ia menjadi jemu …
sn35.32:28.4 Ia menjadi jemu terhadap pikiran, terhadap objek-objek pikiran, terhadap kesadaran pikiran, dan terhadap kontak pikiran.
sn35.32:28.5 Perasaan apa pun yang muncul dengan kontak pikiran sebagai kondisi—apakah menyenangkan, menyakitkan, atau netral—terhadap itu pun ia menjadi jemu.
sn35.32:28.6 Dengan menjadi jemu, ia menjadi bosan; karena bosan, ia terbebaskan; ketika terbebaskan, muncullah pengetahuan: ‘Telah terbebaskan.’
sn35.32:28.7 Ia memahami: ‘Kelahiran telah berakhir, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak ada lagi yang tersisa untuk kehidupan ini.’
sn35.32:28.8 Inilah, para bhikkhu, jalan yang sesuai untuk mencabut seluruh keangkuhan.”
sn35.32:28.9 Yang kesepuluh.
sn35.32:28.10 Bab ketiga tentang Segalanya.