Dengan melihat demikian, para bhikkhu, siswa mulia yang terpelajar menjadi jijik terhadap mata, bentuk-bentuk, kesadaran mata, dan kontak mata. Dan ia menjadi jijik terhadap perasaan menyakitkan, menyenangkan, atau netral yang muncul bergantung pada kontak mata.
Seeing this, a learned noble disciple grows disillusioned with the eye, sights, eye consciousness, and eye contact. And they grow disillusioned with the painful, pleasant, or neutral feeling that arises dependent on eye contact.
Ia menjadi jijik terhadap telinga … hidung … lidah … tubuh … pikiran … perasaan menyakitkan, menyenangkan, atau netral yang muncul bergantung pada kontak pikiran.
They grow disillusioned with the ear … nose … tongue … body … mind … painful, pleasant, or neutral feeling that arises dependent on mind contact.
Dengan menjadi jijik, nafsu menjadi padam. Dengan padamnya nafsu, ia terbebaskan. Ketika terbebaskan, muncullah pengetahuan bahwa ia telah terbebaskan.
Being disillusioned, desire fades away. When desire fades away they’re freed. When they’re freed, they know they’re freed.
Ia memahami: ‘Kelahiran telah berakhir, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak ada lagi yang tersisa untuk kehidupan ini.’
They understand: ‘Rebirth is ended, the spiritual journey has been completed, what had to be done has been done, there is nothing further for this place.’
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.