sn35.160:1.1 Pada suatu ketika, Sang Bhagavā sedang menetap di Rājagaha, di Hutan Mangga Jīvaka.
sn35.160:1.2 Di sana Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu:
sn35.160:1.3 “Para bhikkhu” …
sn35.160:1.4 “Para bhikkhu, kembangkanlah samādhi.
sn35.160:1.5 Bagi seorang bhikkhu yang memiliki samādhi, segala sesuatu menjadi jelas sebagaimana adanya.
sn35.160:1.6 Dan apakah yang menjadi jelas sebagaimana adanya?
sn35.160:1.7 Mata adalah tidak kekal—ini menjadi jelas sebagaimana adanya; bentuk-bentuk adalah tidak kekal—ini menjadi jelas sebagaimana adanya; kesadaran mata adalah tidak kekal—ini menjadi jelas sebagaimana adanya; kontak mata adalah tidak kekal—ini menjadi jelas sebagaimana adanya; dan perasaan apa pun yang muncul dengan kontak mata sebagai kondisi—apakah menyenangkan, menyakitkan, atau netral—itu juga tidak kekal—ini menjadi jelas sebagaimana adanya.
sn35.160:1.8 Telinga adalah tidak kekal—ini menjadi jelas sebagaimana adanya … hidung adalah tidak kekal—ini menjadi jelas sebagaimana adanya … lidah adalah tidak kekal—ini menjadi jelas sebagaimana adanya … tubuh adalah tidak kekal—ini menjadi jelas sebagaimana adanya …
sn35.160:1.9 pikiran adalah tidak kekal—ini menjadi jelas sebagaimana adanya; objek-objek pikiran adalah tidak kekal—ini menjadi jelas sebagaimana adanya; kesadaran pikiran adalah tidak kekal—ini menjadi jelas sebagaimana adanya; kontak pikiran adalah tidak kekal—ini menjadi jelas sebagaimana adanya;
sn35.160:1.10 dan perasaan apa pun yang muncul dengan kontak pikiran sebagai kondisi—apakah menyenangkan, menyakitkan, atau netral—itu juga tidak kekal—ini menjadi jelas sebagaimana adanya.
sn35.160:1.11 Para bhikkhu, kembangkanlah samādhi.
sn35.160:1.12 Bagi seorang bhikkhu yang memiliki samādhi, segala sesuatu menjadi jelas sebagaimana adanya.”
sn35.160:1.13 Yang kelima.