sn35.140:1.1 “Para bhikkhu, mata adalah tidak kekal.
sn35.140:1.2 Sebab dan kondisi apa pun yang memunculkan mata juga tidak kekal.
sn35.140:1.3 Karena mata muncul dari yang tidak kekal, bagaimana mungkin ia kekal? …
sn35.140:1.4 lidah adalah tidak kekal.
sn35.140:1.5 Sebab dan kondisi apa pun yang memunculkan lidah juga tidak kekal.
sn35.140:1.6 Karena lidah muncul dari yang tidak kekal, bagaimana mungkin ia kekal? …
sn35.140:1.7 pikiran adalah tidak kekal.
sn35.140:1.8 Para bhikkhu, sebab dan kondisi apa pun yang memunculkan pikiran juga tidak kekal.
sn35.140:1.9 Karena pikiran muncul dari yang tidak kekal, bagaimana mungkin ia kekal?
sn35.140:1.10 Melihat demikian, para bhikkhu, siswa mulia yang terpelajar menjadi jemu terhadap mata … jemu terhadap lidah … jemu terhadap pikiran.
sn35.140:1.11 Dengan kejemuan, nafsu menjadi padam; dengan padamnya nafsu, ia terbebaskan; ketika terbebaskan, muncullah pengetahuan bahwa ia telah terbebaskan.
sn35.140:1.12 Ia memahami: ‘Kelahiran telah berakhir, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak ada lagi yang tersisa untuk kehidupan ini.’”
sn35.140:1.13 Ketujuh.