sn30.7-16:1.1 Di Sāvatthī.
sn30.7-16:1.2 Sambil duduk di satu sisi, bhikkhu itu berkata kepada Bhagavā:
sn30.7-16:1.3 “Yang Mulia, apakah sebab, apakah alasan, sehingga seseorang, setelah hancurnya tubuh, setelah kematian, terlahir di tengah-tengah supaṇṇa yang terlahir dari telur?”
sn30.7-16:1.4 “Di sini, bhikkhu, seseorang melakukan perbuatan bermuka dua melalui tubuh, melalui ucapan, dan melalui pikiran.
sn30.7-16:1.5 Dan ia telah mendengar:
sn30.7-16:1.6 ‘Supaṇṇa yang terlahir dari telur berumur panjang, rupawan, dan sangat bahagia.’
sn30.7-16:1.7 Ia berpikir:
sn30.7-16:1.8 ‘Oh, semoga setelah hancurnya tubuh, setelah kematian, aku terlahir di tengah-tengah supaṇṇa yang terlahir dari telur!’
sn30.7-16:1.9 Ia memberi makanan …
sn30.7-16:1.10 Ia memberi minuman …
sn30.7-16:1.11 Ia memberi pakaian …
sn30.7-16:1.12 Ia memberi kendaraan …
sn30.7-16:1.13 Ia memberi karangan bunga …
sn30.7-16:1.14 Ia memberi wewangian …
sn30.7-16:1.15 Ia memberi salep …
sn30.7-16:1.16 Ia memberi tempat tidur …
sn30.7-16:1.17 Ia memberi tempat tinggal …
sn30.7-16:1.18 memberikan pelita.
sn30.7-16:1.19 Setelah kematian, saat hancurnya jasmani, ia terlahir kembali di tengah-tengah para supaṇṇa yang lahir dari telur.
sn30.7-16:1.20 Ini, bhikkhu, adalah sebab, ini adalah alasan, mengapa seseorang, setelah hancurnya tubuh, setelah kematian, terlahir kembali di tengah-tengah para supaṇṇa yang lahir dari telur.”
sn30.7-16:1.21 Yang keenam belas.