Misalkan, para bhikkhu, seorang pesulap atau murid pesulap memperagakan ilusi di persimpangan jalan. Seorang yang berpenglihatan jernih akan melihatnya, merenungkannya, dan memeriksanya secara bijaksana. Baginya, ketika melihat, merenungkan, dan memeriksanya secara bijaksana, ilusi itu tampak hanya kosong, hampa, dan tanpa inti. Sebab apakah inti yang dapat ada dalam sebuah ilusi?
Suppose an illusionist or their apprentice was to demonstrate an illusion at the crossroads. And a person with clear eyes would see it and contemplate it, examining it rationally. And it would appear to them as completely vacuous, hollow, and insubstantial. For what essence could there be in an illusion?
Demikian pula, para bhikkhu, kesadaran apa pun yang ada—masa lalu, masa depan, atau masa sekarang; internal atau eksternal; kasar atau halus; rendah atau tinggi; jauh atau dekat—seorang bhikkhu melihatnya, merenungkannya, dan memeriksanya secara bijaksana. Ketika ia melihat, merenungkan, dan memeriksanya secara bijaksana, kesadaran itu tampak baginya hanya kosong, hampa, dan tanpa inti. Sebab apakah inti yang dapat ada dalam kesadaran?
In the same way, a mendicant sees and contemplates any kind of consciousness at all—past, future, or present; internal or external; solid or subtle; inferior or superior; far or near—examining it rationally. And it appears to them completely vacuous, hollow, and insubstantial. For what essence could there be in consciousness?
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.
SN 22.95 · Khotbah tentang Gumpalan Busa | Tiga Keranjang