sn22.89:1.1 Pada suatu ketika, sejumlah bhikkhu sesepuh sedang menetap di Kosambī, di Vihara Ghosita.
sn22.89:1.2 Pada saat itu, Yang Mulia Khemaka sedang menetap di Vihara Pohon Bidara, dan ia sakit, menderita, sakit parah.
sn22.89:1.3 Pada sore hari, para bhikkhu sesepuh itu keluar dari keterasingan dan berkata kepada Yang Mulia Dāsaka:
sn22.89:1.4 “Mari, Sahabat Dāsaka, pergilah menemui bhikkhu Khemaka dan katakan kepadanya:
sn22.89:1.5 ‘Para sesepuh, Sahabat Khemaka, berkata demikian:
sn22.89:1.6 “Sahabat, semoga engkau tabah, semoga engkau bertahan; semoga rasa sakitmu mereda, tidak bertambah; semoga peredaan itu terlihat, bukan pertambahannya.”’”
sn22.89:1.7 “Baik, Sahabat,” Yang Mulia Dāsaka menjawab para bhikkhu sesepuh itu. Ia lalu pergi menemui Yang Mulia Khemaka dan berkata kepadanya:
sn22.89:1.8 “Para sesepuh, Sahabat Khemaka, berkata demikian:
sn22.89:1.9 ‘Sahabat, semoga engkau tabah, semoga engkau bertahan; semoga rasa sakitmu mereda, tidak bertambah; semoga peredaan itu terlihat, bukan pertambahannya.’”
sn22.89:1.10 “Sahabat, aku tidak tabah, aku tidak bertahan; rasa sakitku parah dan bertambah, tidak mereda; pertambahannya terlihat, bukan peredaannya.”