sn22.81:9.1 Akan tetapi, mereka tidak memandang rupa sebagai diri, tidak memandang diri sebagai yang memiliki rupa, tidak memandang rupa di dalam diri, tidak memandang diri di dalam rupa;
sn22.81:9.2 akan tetapi, mereka memandang perasaan sebagai diri, memandang diri sebagai yang memiliki perasaan, memandang perasaan di dalam diri, memandang diri di dalam perasaan;
sn22.81:9.3 akan tetapi, mereka memandang persepsi …
sn22.81:9.4 akan tetapi, mereka memandang bentukan-bentukan kehendak sebagai diri, memandang diri sebagai yang memiliki bentukan-bentukan kehendak, memandang bentukan-bentukan kehendak di dalam diri, memandang diri di dalam bentukan-bentukan kehendak;
sn22.81:9.5 akan tetapi, mereka memandang kesadaran sebagai diri, memandang diri sebagai yang memiliki kesadaran, memandang kesadaran di dalam diri, memandang diri di dalam kesadaran.
sn22.81:9.6 Akan tetapi, para bhikkhu, pandangan itu adalah suatu bentukan kehendak.
sn22.81:9.7 Dan bentukan kehendak itu berakar pada apakah … berasal dari apakah?
sn22.81:9.8 Ketika seorang kaum duniawi yang tidak terpelajar tersentuh oleh perasaan yang lahir dari kontak dengan ketidaktahuan, maka munculah ketagihan;
sn22.81:9.9 bentukan kehendak itu lahir dari hal tersebut.
sn22.81:9.10 Demikianlah, para bhikkhu, bentukan kehendak itu pun tidak kekal, terkondisi, dan muncul bergantung pada sebab.
sn22.81:9.11 Ketagihan itu pun …
sn22.81:9.12 perasaan itu pun …
sn22.81:9.13 kontak itu pun …
sn22.81:9.14 dan ketidaktahuan itu pun tidak kekal, terkondisi, dan muncul bergantung pada sebab.
sn22.81:9.15 Demikianlah, para bhikkhu, bagi seseorang yang mengetahui dan melihat demikian, maka kekotoran batin berakhir tanpa penundaan.