sn22.45:1.1 Di Sāvatthī.
sn22.45:1.2 “Para bhikkhu, bentuk adalah tidak kekal.
sn22.45:1.3 Apa yang tidak kekal adalah penderitaan;
sn22.45:1.4 apa yang merupakan penderitaan adalah bukan diri;
sn22.45:1.5 dan apa yang bukan diri harus dilihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar seperti ini: ‘Ini bukan milikku, aku bukan ini, ini bukan diriku.’
sn22.45:1.6 Dengan melihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar seperti ini, pikiran menjadi tidak bernafsu dan terbebaskan dari kekotoran batin dengan tidak melekat.
sn22.45:1.7 Perasaan adalah tidak kekal …
sn22.45:1.8 Persepsi …
sn22.45:1.9 Bentukan-bentukan kehendak …
sn22.45:1.10 Kesadaran adalah tidak kekal.
sn22.45:1.11 Apa yang tidak kekal adalah penderitaan;
sn22.45:1.12 apa yang merupakan penderitaan adalah bukan diri;
sn22.45:1.13 dan apa yang bukan diri harus dilihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar seperti ini: ‘Ini bukan milikku, aku bukan ini, ini bukan diriku.’
sn22.45:1.14 Dengan melihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar seperti ini, pikiran menjadi tidak bernafsu dan terbebaskan dari kekotoran batin dengan tidak melekat.
sn22.45:1.15 Para bhikkhu, jika pikiran seorang bhikkhu menjadi tidak bernafsu dan terbebaskan dari unsur bentuk, unsur perasaan,
sn22.45:1.16 unsur persepsi,
sn22.45:1.17 unsur bentukan-bentukan kehendak,
sn22.45:1.18 Para bhikkhu, jika pikiran seorang bhikkhu terhadap unsur kesadaran telah menjadi tanpa nafsu dan terbebaskan, maka ia terbebas dari kekotoran batin dengan tidak melekat.
sn22.45:1.19 Karena terbebas, ia menjadi kokoh. Karena kokoh, ia menjadi puas. Karena puas, ia tidak menjadi cemas. Karena tidak cemas, ia secara pribadi mencapai padamnya sempurna.
sn22.45:1.20 Ia memahami: ‘Kelahiran telah berakhir, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak ada lagi yang tersisa untuk keadaan ini.’”
sn22.45:1.21 Yang ketiga.