sn22.101:6.1 Misalnya, para bhikkhu, seorang tukang batu atau murid tukang batu melihat bekas jari-jari dan bekas ibu jarinya pada gagang kapak.
sn22.101:6.2 Namun ia tidak mengetahui:
sn22.101:6.3 ‘Begitu banyak gagang kapak ini yang aus hari ini, begitu banyak kemarin, begitu banyak sebelumnya.’
sn22.101:6.4 Ia hanya mengetahui bahwa apa yang telah aus telah aus.
sn22.101:6.5 Demikian pula, para bhikkhu, ketika seorang bhikkhu tekun berlatih pengembangan batin, meskipun ia tidak mengetahui:
sn22.101:6.6 ‘Begitu banyak kekotoran batin yang aus hari ini, begitu banyak kemarin, begitu banyak sebelumnya.’ Ia hanya mengetahui bahwa apa yang telah aus telah aus.
sn22.101:6.7 Misalnya, para bhikkhu, sebuah kapal laut yang diikat dengan tali pengikat, setelah terendam air selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun, lalu ditarik ke darat pada musim dingin, tali-tali pengikatnya terkena angin dan matahari. Ketika hujan awan musim hujan mengguyurnya, tali-tali itu dengan mudah menjadi kendur dan membusuk.
sn22.101:6.8 Demikian pula, para bhikkhu, ketika seorang bhikkhu tekun berlatih pengembangan batin, belenggu-belenggunya dengan mudah menjadi kendur dan membusuk.”
sn22.101:6.9 Kesembilan.