sn22.101:3.1 Misalkan, para bhikkhu, seekor induk ayam memiliki delapan, sepuluh, atau dua belas telur.
sn22.101:3.2 Namun telur-telur itu tidak dierami dengan baik, tidak dihangatkan dengan baik, tidak dirawat dengan baik.
sn22.101:3.3 Induk ayam itu mungkin berharap:
sn22.101:3.4 ‘Oh, semoga anak-anak ayamku memecahkan cangkang telur dengan ujung kuku kaki atau paruhnya dan menetas dengan selamat!’
sn22.101:3.5 Tetapi anak-anak ayam itu tidak mampu memecahkan cangkang telur dengan ujung kuku kaki atau paruhnya dan menetas dengan selamat.
sn22.101:3.6 Apakah sebabnya?
sn22.101:3.7 Karena, para bhikkhu, telur-telur induk ayam itu — delapan, sepuluh, atau dua belas butir —
sn22.101:3.8 tidak dierami dengan baik oleh induknya, tidak dihangatkan dengan baik, tidak dirawat dengan baik.
sn22.101:3.9 Demikian pula, para bhikkhu, ketika seorang bhikkhu berdiam tanpa tekun dalam pengembangan batin, meskipun ia mungkin berharap:
sn22.101:3.10 ‘Oh, semoga pikiranku terbebas dari kekotoran batin tanpa melekat!’ Namun pikirannya tidak terbebas dari kekotoran batin tanpa melekat.
sn22.101:3.11 Apakah sebabnya?
sn22.101:3.12 Harus dikatakan: ‘Karena ia belum mengembangkan.’
sn22.101:3.13 Belum mengembangkan apa?
sn22.101:3.14 Belum mengembangkan empat penegakan perhatian, empat usaha benar, empat landasan kekuatan batin, lima indria, lima kekuatan, tujuh faktor pencerahan, dan jalan mulia berunsur delapan.