sn20.7:1.1 Di Sāvatthī.
sn20.7:1.2 “Pada suatu masa dahulu, para bhikkhu, suku Dasāraha memiliki sebuah genderang mridangam yang bernama Pasak.
sn20.7:1.3 Ketika genderang Pasak itu retak, suku Dasāraha menambalnya dengan pasak lain.
sn20.7:1.4 Akhirnya, para bhikkhu, tibalah saatnya ketika papan kayu tua dari genderang itu lenyap,
sn20.7:1.5 dan yang tersisa hanyalah tumpukan pasak-pasak.”
sn20.7:1.6 Demikian pula, para bhikkhu, akan ada para bhikkhu di masa depan yang, ketika khotbah-khotbah yang dibabarkan oleh Sang Tathāgata—yang dalam, bermakna dalam, melampaui dunia, berkaitan dengan kekosongan—sedang dibacakan, mereka tidak akan mau mendengarkan, tidak akan memasang telinga, tidak akan mengarahkan pikiran untuk memahaminya, dan tidak akan menganggap ajaran-ajaran itu layak dipelajari dan dihafalkan.