sn12.63:2.1 Dan bagaimanakah, para bhikkhu, makanan yang dapat dikunyah itu harus direnungkan?
sn12.63:2.2 Misalkan, para bhikkhu, sepasang suami istri mengambil perbekalan yang terbatas dan memasuki jalan gurun.
sn12.63:2.3 Mereka memiliki seorang anak tunggal, yang dicintai dan disayangi.
sn12.63:2.4 Kemudian, para bhikkhu, ketika kedua suami istri itu sedang berada di tengah gurun, perbekalan terbatas mereka itu habis dan lenyap.
sn12.63:2.5 Dan masih ada sisa jalan gurun yang belum mereka lintasi.
sn12.63:2.6 Kemudian terpikir oleh kedua suami istri itu:
sn12.63:2.7 ‘Perbekalan terbatas kami telah habis dan lenyap.
sn12.63:2.8 Dan masih ada sisa jalan gurun yang belum kami lintasi.
sn12.63:2.9 Bagaimana jika kami membunuh anak tunggal kami yang tercinta dan tersayang ini, mengawetkannya dan membuatnya menjadi dendeng, lalu dengan memakan daging anak kami sendiri, kami dapat menyeberangi sisa jalan gurun ini, agar kami bertiga tidak binasa semuanya.’
sn12.63:2.10 Kemudian, para bhikkhu, kedua suami istri itu membunuh anak tunggal mereka yang tercinta dan tersayang, mengawetkannya dan membuatnya menjadi dendeng, lalu dengan memakan daging anak mereka sendiri, mereka menyeberangi sisa jalan gurun itu.
sn12.63:2.11 Sambil memakan daging anak mereka sendiri, mereka memukuli dada mereka dan menangis:
sn12.63:2.12 ‘Di manakah engkau, anak tunggal kami? Di manakah engkau, anak tunggal kami?’