Evameva kho, bhikkhave, avijjūpanisā saṅkhārā, saṅkhārūpanisaṁ viññāṇaṁ, viññāṇūpanisaṁ nāmarūpaṁ, nāmarūpūpanisaṁ saḷāyatanaṁ, saḷāyatanūpaniso phasso, phassūpanisā vedanā, vedanūpanisā taṇhā, taṇhūpanisaṁ upādānaṁ, upādānūpaniso bhavo, bhavūpanisā jāti, jātūpanisaṁ dukkhaṁ, dukkhūpanisā saddhā, saddhūpanisaṁ pāmojjaṁ, pāmojjūpanisā pīti, pītūpanisā passaddhi, passaddhūpanisaṁ sukhaṁ, sukhūpaniso samādhi, samādhūpanisaṁ yathābhūtañāṇadassanaṁ, yathābhūtañāṇadassanūpanisā nibbidā, nibbidūpaniso virāgo, virāgūpanisā vimutti, vimuttūpanisaṁ khaye ñāṇan”ti.
Demikian pula, para bhikkhu, ketidaktahuan adalah kondisi vital bagi bentukan-bentukan pikiran; bentukan-bentukan pikiran adalah kondisi vital bagi kesadaran; kesadaran adalah kondisi vital bagi batin dan bentuk jasmani; batin dan bentuk jasmani adalah kondisi vital bagi enam indra; enam indra adalah kondisi vital bagi kontak; kontak adalah kondisi vital bagi perasaan; perasaan adalah kondisi vital bagi nafsu keinginan; nafsu keinginan adalah kondisi vital bagi kemelekatan; kemelekatan adalah kondisi vital bagi keberadaan; keberadaan adalah kondisi vital bagi kelahiran; kelahiran adalah kondisi vital bagi penderitaan; penderitaan adalah kondisi vital bagi keyakinan; keyakinan adalah kondisi vital bagi kegembiraan; kegembiraan adalah kondisi vital bagi sukacita; sukacita adalah kondisi vital bagi ketenangan; ketenangan adalah kondisi vital bagi kebahagiaan; kebahagiaan adalah kondisi vital bagi konsentrasi; konsentrasi adalah kondisi vital bagi pengetahuan dan penglihatan sebagaimana adanya; pengetahuan dan penglihatan sebagaimana adanya adalah kondisi vital bagi kekecewaan; kekecewaan adalah kondisi vital bagi kebosanan; kebosanan adalah kondisi vital bagi kebebasan; kebebasan adalah kondisi vital bagi pengetahuan tentang berakhirnya (kekotoran batin).
In the same way, ignorance is the vital condition for choices. … Freedom is the vital condition for the knowledge of ending.”