sn11.4:1.1 Di Sāvatthī.
sn11.4:1.2 “Pada suatu ketika, para bhikkhu, terjadi pertempuran antara para deva dan para asura.
sn11.4:1.3 Kemudian, para bhikkhu, Vepacitti, raja para asura, berkata kepada para asura:
sn11.4:1.4 ‘Tuan-tuan, jika dalam pertempuran antara para deva dan asura ini para asura menang dan para deva kalah, maka ikatlah Sakka, raja para deva, dengan ikatan pada leher dan anggota badan, lalu bawa dia ke hadapanku di kota para asura.’
sn11.4:1.5 Sementara itu, para bhikkhu, Sakka, raja para deva, berkata kepada para deva Tāvatiṁsa:
sn11.4:1.6 ‘Tuan-tuan, jika dalam pertempuran antara para deva dan asura ini para deva menang dan para asura kalah, maka ikatlah Vepacitti, raja para asura, dengan ikatan pada leher dan anggota badan, lalu bawa dia ke hadapanku di Aula Kebenaran para deva.’
sn11.4:1.7 Dalam pertempuran itu, para bhikkhu, para deva menang dan para asura kalah.
sn11.4:1.8 Kemudian, para bhikkhu, para deva Tāvatiṁsa mengikat Vepacitti, raja para asura, dengan ikatan pada leher dan anggota badan, lalu membawanya ke hadapan Sakka di Aula Kebenaran para deva.
sn11.4:1.9 Di sana, para bhikkhu, Vepacitti, raja para asura, yang terikat pada leher dan anggota badan, mencaci dan menghina Sakka, raja para deva, dengan kata-kata kasar dan tidak sopan ketika Sakka masuk dan keluar dari Aula Kebenaran.
sn11.4:1.10 Kemudian, para bhikkhu, Mātali, sang kusir, berkata kepada Sakka dalam syair: