Buddha
Pengajar yang membongkar cara pandangan melekat dan membuat seseorang terikat pada pendapatnya sendiri.
Khotbah tentang Pandangan Benar
Sutta ini memakai perumpamaan pandangan seperti sesuatu yang dapat menjerat. Ia mengajak pembaca melihat bagaimana pendapat, identitas, dan kesimpulan batin bisa berubah menjadi pegangan yang membuat sempit.
Pengajar yang membongkar cara pandangan melekat dan membuat seseorang terikat pada pendapatnya sendiri.
Salah satu pusat penting penyampaian ajaran, tempat banyak dialog tentang pandangan dan latihan berlangsung.
Pandangan membantu bila dipakai untuk melihat, tetapi menjadi jerat bila dijadikan identitas yang harus dipertahankan.
Yato kho, āvuso, ariyasāvako evaṁ dukkhaṁ pajānāti, evaṁ dukkhasamudayaṁ pajānāti, evaṁ dukkhanirodhaṁ pajānāti, evaṁ dukkhanirodhagāminiṁ paṭipadaṁ pajānāti, so sabbaso rāgānusayaṁ pahāya, paṭighānusayaṁ paṭivinodetvā, ‘asmī’ti diṭṭhimānānusayaṁ samūhanitvā, avijjaṁ pahāya vijjaṁ uppādetvā, diṭṭheva dhamme dukkhassantakaro hoti—
Ketika, para sahabat, seorang siswa mulia memahami penderitaan demikian, memahami asal mula penderitaan demikian, memahami lenyapnya penderitaan demikian, dan memahami jalan menuju lenyapnya penderitaan demikian, maka ia sepenuhnya meninggalkan kecenderungan tersembunyi terhadap nafsu, melenyapkan kecenderungan tersembunyi terhadap penolakan, mencabut kecenderungan tersembunyi terhadap pandangan dan keangkuhan ‘aku ada’, meninggalkan ketidaktahuan dan memunculkan pengetahuan, dan dalam kehidupan ini juga ia mengakhiri penderitaan—
ettāvatāpi kho, āvuso, ariyasāvako sammādiṭṭhi hoti, ujugatāssa diṭṭhi, dhamme aveccappasādena samannāgato, āgato imaṁ saddhamman”ti.
Setelah mencapai hal ini, para sahabat, seorang siswa mulia dikatakan memiliki pandangan benar, pandangannya lurus, memiliki keyakinan penuh yang timbul dari pemahaman terhadap Dhamma, dan telah sampai pada Dhamma sejati ini."