mn98:3.1 Kemudian ketika para siswa Vāseṭṭha dan Bhāradvāja sedang berjalan-jalan untuk melepas lelah, timbullah percakapan di antara mereka:
BAGIAN 3
mn98:3.2 “Bagaimana, Tuan, seseorang menjadi brahmana?”
mn98:3.3 Siswa Bhāradvāja berkata demikian:
mn98:3.4 “Ketika, Tuan, seseorang terlahir baik dari kedua belah pihak, dari pihak ibu maupun ayah, berasal dari keturunan yang murni, dengan silsilah yang tak tercela dan tak terbantahkan hingga tujuh generasi kebapakan—
mn98:3.5 Maka, Tuan, itulah yang disebut brahmana.”
mn98:3.6 Vāseṭṭha, pemuda itu, berkata demikian:
mn98:3.7 “Karena, Tuan, ketika seseorang bermoral dan sempurna dalam perilaku—
mn98:3.8 maka, Tuan, engkau adalah seorang brahmana.”