
Buddha
Guru yang menjelaskan perumpamaan kain untuk menggambarkan batin yang kotor dan batin yang murni.
Khotbah tentang Perumpamaan Kain
Vattha Sutta memakai perumpamaan mewarnai kain untuk menjelaskan bagaimana batin yang kotor oleh noda batin tidak dapat menyerap kebaikan, sementara batin yang bersih mudah diwarnai keyakinan.

Guru yang menjelaskan perumpamaan kain untuk menggambarkan batin yang kotor dan batin yang murni.

Wihara di Sāvatthī, tempat Buddha menyampaikan perumpamaan ini kepada para bhikkhu.
Seperti kain kotor yang sulit diwarnai dengan baik, batin yang dipenuhi keserakahan, kebencian, dan kekotoran lain sulit menyerap keyakinan; batin yang bersih mudah diwarnai kebaikan.
Buddha memakai perumpamaan sehelai kain untuk menunjukkan hubungan antara keadaan batin dan hasil yang dapat diterimanya. Seperti kain kotor yang menghasilkan warna buruk ketika dicelup, batin yang dipenuhi keserakahan, kebencian, iri hati, kemunafikan dan berbagai noda lain tidak siap menerima hasil latihan yang jernih. Setelah menguraikan cara meninggalkan noda-noda itu, Buddha menggambarkan batin yang memperoleh keyakinan dan kegembiraan lalu berkembang menuju kediaman luhur. Seorang brahmana bernama Sundarika Bhāradvāja kemudian bertanya tentang mandi penyucian di sungai, dan Buddha mengalihkan makna penyucian dari air menuju kebajikan dan kemurnian perbuatan.
mn7:4.1 Para bhikkhu, seorang bhikkhu yang memahami bahwa ‘ketamakan dan keserakahan yang tidak baik adalah noda batin’—setelah mengetahui demikian, ia meninggalkan ketamakan dan keserakahan yang tidak baik sebagai noda batin;
mn7:4.2 ‘kebencian adalah noda batin’—
mn7:4.3 setelah mengetahui demikian, ia meninggalkan kebencian sebagai noda batin;
mn7:4.4 ‘kemarahan adalah noda batin’—
mn7:4.5 setelah mengetahui demikian, ia meninggalkan kemarahan sebagai noda batin;
mn7:4.6 ‘dendam adalah noda batin’—
mn7:4.7 setelah mengetahui demikian, ia meninggalkan dendam sebagai noda batin;
mn7:4.8 ‘kekikiran adalah noda batin’—
mn7:4.9 setelah mengetahui demikian, ia meninggalkan kekikiran sebagai noda batin;
mn7:4.10 ‘iri hati adalah noda batin’—
mn7:4.11 setelah mengetahui demikian, ia meninggalkan iri hati sebagai noda batin;
mn7:4.12 ‘kecemburuan adalah noda batin’—
mn7:4.13 setelah mengetahui demikian, ia meninggalkan kecemburuan sebagai noda batin;
mn7:4.14 ‘kekikiran (pelit) adalah noda batin’—
mn7:4.15 setelah mengetahui demikian, ia meninggalkan kekikiran (pelit) sebagai noda batin;
mn7:4.16 ‘kecurangan adalah noda batin’—
mn7:4.17 setelah mengetahui demikian, ia meninggalkan kecurangan sebagai noda batin;
mn7:4.18 ‘kemunafikan adalah noda batin’—
mn7:4.19 setelah mengetahui demikian, ia meninggalkan kemunafikan sebagai noda batin;
mn7:4.20 ‘kesombongan adalah noda batin’—
mn7:4.21 Setelah mengetahui demikian, ia melepaskan kekakuan sebagai noda batin;
mn7:4.22 ‘Kekasaran adalah noda batin’—
mn7:4.23 setelah mengetahui demikian, ia melepaskan kekasaran sebagai noda batin;
mn7:4.24 ‘Keangkuhan adalah noda batin’—
mn7:4.25 setelah mengetahui demikian, ia melepaskan keangkuhan sebagai noda batin;
mn7:4.26 ‘Kesombongan berlebih adalah noda batin’—
mn7:4.27 setelah mengetahui demikian, ia melepaskan kesombongan berlebih sebagai noda batin;
mn7:4.28 ‘Kemabukan adalah noda batin’—
mn7:4.29 setelah mengetahui demikian, ia melepaskan kemabukan sebagai noda batin;
mn7:4.30 ‘Kelengahan adalah noda batin’—
mn7:4.31 setelah mengetahui demikian, ia melepaskan kelengahan sebagai noda batin.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.