Buddha
Guru yang menggunakan perumpamaan sederhana agar para pendengar memahami hubungan antara batin dan latihan.
Khotbah tentang Perumpamaan Kain
Dengan perumpamaan kain, sutta ini menunjukkan bahwa batin yang ternoda sulit menerima warna yang indah. Bila noda dilepaskan, keyakinan dan kejernihan dapat berkembang dengan alami.
Guru yang menggunakan perumpamaan sederhana agar para pendengar memahami hubungan antara batin dan latihan.
Tempat ajaran diberikan kepada para bhikkhu dengan bahasa perumpamaan yang dekat dengan hidup sehari-hari.
Seperti kain kotor sulit diwarnai, batin yang dipenuhi noda sulit menerima kebaikan secara utuh.
mn7:20.1 Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada brāhmaṇa Sundarikabhāradvāja dalam syair-syair:
mn7:20.2 “Bāhukā dan Adhikakkā,
mn7:20.3 di Gayā dan Sundarikā juga,
mn7:20.4 Sarasvatī dan Payāga,
mn7:20.5 serta sungai Bāhumatī;
mn7:20.6 seorang bodoh yang terus-menerus menceburkan diri ke dalamnya
mn7:20.7 tetapi perbuatan gelap mereka tidak akan menyucikan.
mn7:20.8 Apa yang dapat dilakukan Sundarikā?
mn7:20.9 Apa yang dapat dilakukan Payāga atau Bāhukā?
mn7:20.10 Mereka tidak dapat menyucikan orang yang kejam dan berdosa,
mn7:20.11 Sungguh, mereka tidak dapat membersihkan orang yang berbuat jahat.
mn7:20.12 Bagi yang suci hati, selalu adalah musim semi,
mn7:20.13 Bagi yang suci, selalu adalah hari uposatha;
mn7:20.14 Bagi yang suci dan berperilaku bersih,
mn7:20.15 Sumpah mereka akan selalu terpenuhi.
mn7:20.16 Di sini saja engkau mandi, brahmana,
mn7:20.17 Jadikanlah dirimu tempat berlindung yang aman bagi semua makhluk.
mn7:20.18 Dan jika engkau tidak berbicara dusta,
mn7:20.19 serta tidak menyakiti makhluk hidup mana pun;
mn7:20.20 Jika engkau tidak mengambil yang tidak diberikan,
mn7:20.21 dengan penuh keyakinan dan tanpa kekikiran:
mn7:20.22 Pergi ke Gayā untuk apa?
mn7:20.23 Bagimu, sumur mana pun adalah Gayā-mu.”