
Buddha
Guru yang mengalihkan perdebatan menuju pengalaman latihan yang nyata.
Khotbah Pendek kepada Sakuludāyī
Sakuludāyī menantang Buddha menjelaskan masa lalu, masa depan, dan kebahagiaan tertinggi. Buddha mengarahkannya dari spekulasi menuju latihan bertahap yang dapat diketahui sendiri. Inilah Cūḷasakuludāyi Sutta.

Guru yang mengalihkan perdebatan menuju pengalaman latihan yang nyata.
Pengembara yang tertarik tetapi masih terikat pada kelompok dan gurunya.
Taman Suaka Merak tempat dialog berlangsung.
Jalan Buddha bergerak dari sila dan ketenangan menuju pengetahuan langsung, bukan berhenti pada cerita atau dugaan tentang yang belum dialami.
Sakuludāyin bertanya kepada Buddha tentang ajaran yang diklaim guru-guru lain sebagai ‘cahaya tertinggi’. Ketika diminta menjelaskan apa sebenarnya cahaya atau keindahan tertinggi itu, ia tidak mampu memberikan jawaban yang jelas. Buddha memakai percakapan tersebut untuk menunjukkan kelemahan mengejar sesuatu yang bahkan tidak dipahami. Udāyin kemudian meminta Buddha menjelaskan jalan-Nya sendiri. Buddha membawa pembicaraan melalui sila, meninggalkan rintangan, empat jhāna, dan keadaan-keadaan batin yang semakin halus. Alih-alih berbicara tentang tujuan samar yang hanya dibayangkan, latihan disusun sebagai pengalaman yang dapat dikembangkan dan diketahui secara bertahap.
mn79:3.1 Now at that time, Sakuludāyī was sitting together with a large assembly of wanderers making an uproar, a colossal racket. They engaged in all kinds of low talk, such as
mn79:3.2 talk about kings, bandits, and chief ministers; talk about armies, threats, and wars; talk about food, drink, clothes, and beds; talk about garlands and fragrances; talk about family, vehicles, villages, towns, cities, and countries; talk about women and heroes; talk at the street market and the place for water pots; talk about the departed; motley talk; tales of land and sea; and talk about being reborn in this or that place.
mn79:3.3 Sakuludāyī saw the Buddha coming off in the distance,
mn79:3.4 and hushed his own assembly,
mn79:3.5 “Be quiet, good fellows, don’t make a sound.
mn79:3.6 Here comes the ascetic Gotama.
mn79:3.7 The venerable likes quiet and praises quiet.
mn79:3.8 Hopefully if he sees that our assembly is quiet he’ll see fit to approach.”
mn79:3.9 Then those wanderers fell silent.
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.