mn75:21.1 “Demikian pula, Māgaṇḍiya, para pengembara dari agama lain itu buta, tidak berpenglihatan, tidak mengetahui kesehatan, tidak melihat Nibbāna, namun mereka mengucapkan syair ini:
mn75:21.2 ‘Kesehatan adalah berkah tertinggi; padamnya api kekotoran, kebahagiaan tertinggi.’
mn75:21.3 Sebab syair ini telah diucapkan oleh para Arahant, para Buddha yang telah tercerahkan sempurna di masa lampau:
mn75:21.4 ‘Kesehatan adalah berkah tertinggi;
mn75:21.5 padamnya api kekotoran, kebahagiaan tertinggi;
mn75:21.6 Di antara jalan-jalan, yang tertinggi adalah jalan berunsur delapan—
mn75:21.7 ‘aman, dan menuju kebebasan dari kematian.’
mn75:21.8 Kini, seiring waktu, syair itu telah menjadi syair yang diucapkan oleh orang-orang awam.
mn75:21.9 Akan tetapi, Māgaṇḍiya, tubuh ini adalah penyakit, bisul, anak panah, kesengsaraan, dan penderitaan. Namun engkau berkata tentang tubuh ini:
mn75:21.10 ‘Inilah kesehatan itu, inilah padamnya api itu!’ kata engkau, Guru Gotama.
mn75:21.11 Tetapi, Māgaṇḍiya, engkau tidak memiliki mata mulia yang dengannya engkau dapat mengetahui kesehatan dan melihat padamnya api itu.”