
Buddha
Guru yang membandingkan kenikmatan indria dengan rasa lega semu dari penyakit.
Khotbah kepada Māgaṇḍiya
Māgaṇḍiya menganggap kenikmatan indria sebagai kebahagiaan. Buddha menjawab dengan gambaran seorang penderita kusta yang menggaruk luka di dekat api: sesuatu dapat terasa nikmat justru karena penyakit belum sembuh. Inilah Māgaṇḍiya Sutta.

Guru yang membandingkan kenikmatan indria dengan rasa lega semu dari penyakit.
Pengembara yang mempertanyakan mengapa Buddha meninggalkan kenikmatan dunia.
Permukiman di negeri Kuru tempat dialog berlangsung.
Kenikmatan yang bergantung pada nafsu tidak sebanding dengan kedamaian batin yang telah sembuh dari kemelekatan.
Māgaṇḍiya terkejut ketika Buddha menyebut kenikmatan indria sebagai sesuatu yang telah beliau tinggalkan. Ia menganggap pandangan itu merendahkan kehidupan yang dinikmati manusia biasa. Buddha menjelaskan melalui kisah orang buta yang diberi pakaian kotor tetapi mengira pakaian itu bersih karena tidak mampu melihat. Setelah penglihatannya pulih, ia tidak lagi dapat ditipu. Demikian pula seseorang yang belum mengenal kebahagiaan yang lebih tinggi menganggap kenikmatan indria sebagai puncak kesenangan. Buddha memakai perumpamaan orang sakit kulit yang menggaruk luka dan membakarnya di atas bara: tindakan itu terasa nikmat justru karena penyakitnya. Kesembuhan mengubah seluruh penilaiannya tentang apa yang dahulu dianggap menyenangkan.
mn75:19.1 Then on that occasion the Buddha expressed this heartfelt sentiment:
mn75:19.2 “Health is the ultimate blessing;
mn75:19.3 extinguishment, the ultimate happiness.
mn75:19.4 Of paths, the ultimate is eightfold—
mn75:19.5 it’s safe, and leads to freedom from death.”
mn75:19.6 When he said this, Māgaṇḍiya said to him,
mn75:19.7 “It’s incredible, worthy Gotama, it’s amazing!
mn75:19.8 How well said this was by the worthy Gotama!
mn75:19.9 ‘Health is the ultimate blessing; extinguishment, the ultimate happiness.’
mn75:19.10 I’ve also heard that wanderers of the past, the tutors of tutors, said:
mn75:19.11 ‘Health is the ultimate blessing; extinguishment, the ultimate happiness.’
mn75:19.12 And it agrees, worthy Gotama.”
mn75:19.13 “But Māgaṇḍiya, when you heard that wanderers of the past said this,
mn75:19.14 what is that health? And what is that extinguishment?”
mn75:19.15 When he said this, Māgaṇḍiya stroked his own limbs with his hands, saying:
mn75:19.16 “This is that health, worthy Gotama, this is that extinguishment!
mn75:19.17 For I am now healthy and happy, and have no afflictions.”
Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.