mn6:16.1 Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu menginginkan: ‘Semoga aku dapat memahami pikiran makhluk-makhluk lain dan orang-orang lain, setelah meliputnya dengan pikiranku—
mn6:16.2 Pikiran yang bernafsu, aku akan memahami sebagai ‘pikiran yang bernafsu’,
mn6:16.3 dan pikiran yang tanpa nafsu, aku akan memahami sebagai ‘pikiran yang tanpa nafsu’;
mn6:16.4 pikiran dengan kebencian sebagai “pikiran dengan kebencian”,
mn6:16.5 dan pikiran tanpa kebencian sebagai “pikiran tanpa kebencian”;
mn6:16.6 pikiran dengan delusi sebagai “pikiran dengan delusi”,
mn6:16.7 dan pikiran tanpa delusi sebagai “pikiran tanpa delusi”;
mn6:16.8 pikiran yang menyempit sebagai “pikiran yang menyempit”,
mn6:16.9 pikiran yang kacau, ia mengetahui sebagai “pikiran yang kacau”;
mn6:16.10 pikiran yang luas, ia mengetahui sebagai “pikiran yang luas”,
mn6:16.11 dan pikiran yang tidak luas, ia mengetahui sebagai “pikiran yang tidak luas”;
mn6:16.12 pikiran yang tidak tertandingi, ia mengetahui sebagai “pikiran yang tidak tertandingi”,
mn6:16.13 dan pikiran yang tertandingi, ia mengetahui sebagai “pikiran yang tertandingi”;
mn6:16.14 pikiran yang tenang dalam samādhi sebagai “pikiran yang tenang dalam samādhi”,
mn6:16.15 dan pikiran yang tidak tenang dalam samādhi sebagai “pikiran yang tidak tenang dalam samādhi”;
mn6:16.16 pikiran yang terbebaskan sebagai “pikiran yang terbebaskan”,
mn6:16.17 dan pikiran yang belum terbebaskan sebagai “pikiran yang belum terbebaskan”.’
mn6:16.18 Demikianlah hendaknya ia menyempurnakan sila-silanya … memperbanyak tempat-tempat sunyi.