‹
MN 67

Cātumasutta

Khotbah di Cātumā

Majjhima Nikāya · Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang

KENALI DUNIA MN 67

Tokoh, tempat, dan gagasan utamanya

Kedatangan lima ratus bhikkhu yang ribut sempat membuat Buddha menyuruh mereka pergi. Setelah dibujuk Brahmā Sahampati, Buddha menerima mereka kembali dan mengajarkan empat bahaya di air. Inilah Cātuma Sutta.

Potret Buddha
TOKOH

Buddha

Guru yang awalnya menyuruh pergi lima ratus bhikkhu yang ribut, lalu menerima mereka kembali.

Potret Sāriputta
TOKOH

Sāriputta

Salah satu pemimpin rombongan lima ratus bhikkhu yang tiba di Cātumā bersama Moggallāna.

TEMPAT

Cātumā (Hutan Mirobalan)

Hutan pohon mirobalan di Cātumā, tempat lima ratus bhikkhu tiba dan sempat membuat keributan.

KONSEP

Empat bahaya di air

Seperti bahaya ombak, buaya, pusaran air, dan ikan hiu bagi yang menyeberang air, seorang bhikkhu baru menghadapi bahaya kemarahan, kerakusan, kenikmatan indria, dan daya tarik lawan jenis.

Visual pengantar Tiga Keranjang · bukan bagian dari teks kanonik.

Sinopsis singkat

Buddha sedang mengajar di Cātumā ketika sekelompok besar bhikkhu muda yang datang bersama Sāriputta dan Mahāmoggallāna menimbulkan keributan saat mengatur tempat tinggal dan perlengkapan. Buddha menyuruh mereka pergi. Para Sakya setempat kemudian memohon agar Sang Guru memberi kesempatan lagi kepada para bhikkhu muda itu, dan Brahmā Sahampati turut menyampaikan permohonan. Setelah mereka diterima kembali, Buddha berbicara tentang empat bahaya yang dihadapi orang yang meninggalkan kehidupan rumah tangga, seperti bahaya bagi orang yang masuk ke air: gelombang, buaya, pusaran dan ikan ganas. Masing-masing menggambarkan kemarahan terhadap aturan, kerakusan makanan, kerinduan pada kehidupan duniawi dan godaan indria.

mn67:19.1 Katamañca, bhikkhave, susukābhayaṁ?

mn67:19.2 Idha, bhikkhave, ekacco kulaputto saddhā agārasmā anagāriyaṁ pabbajito hoti:

mn67:19.3 ‘otiṇṇomhi jātiyā jarāya maraṇena sokehi paridevehi dukkhehi domanassehi upāyāsehi dukkhotiṇṇo dukkhapareto;

mn67:19.4 appeva nāma imassa kevalassa dukkhakkhandhassa antakiriyā paññāyethā’ti.

mn67:19.5 So evaṁ pabbajito samāno pubbaṇhasamayaṁ nivāsetvā pattacīvaramādāya gāmaṁ vā nigamaṁ vā piṇḍāya pavisati.

mn67:19.6 Arakkhiteneva kāyena arakkhitāya vācāya anupaṭṭhitāya satiyā asaṁvutehi indriyehi so tattha passati mātugāmaṁ dunnivatthaṁ vā duppārutaṁ vā.

mn67:19.7 Tassa mātugāmaṁ disvā dunnivatthaṁ vā duppārutaṁ vā rāgo cittaṁ anuddhaṁseti.

mn67:19.8 So rāgānuddhaṁsena cittena sikkhaṁ paccakkhāya hīnāyāvattati.

mn67:19.9 Ayaṁ vuccati, bhikkhave, susukābhayassa bhīto sikkhaṁ paccakkhāya hīnāyāvatto.

mn67:19.10 ‘Susukābhayan’ti kho, bhikkhave, mātugāmassetaṁ adhivacanaṁ.

TEKS DI TIGA KERANJANG
IndonesiaTersedia

Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.