mn67:16.1 Dan apakah, para bhikkhu, bahaya ombak itu?
mn67:16.2 Di sini, para bhikkhu, seseorang dari keluarga baik telah meninggalkan kehidupan berumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah karena keyakinan, dengan berpikir:
mn67:16.3 ‘Aku tenggelam dalam kelahiran kembali, usia tua, dan kematian; dalam duka, ratapan, penderitaan, kesedihan, dan keputusasaan. Aku tenggelam dalam penderitaan, terperangkap dalam penderitaan.
mn67:16.4 Semoga aku dapat mengakhiri seluruh kumpulan penderitaan ini.’
mn67:16.5 Setelah mereka meninggalkan keduniawian, rekan-rekan seperjalanan spiritual menasihati dan membimbing mereka:
mn67:16.6 ‘Beginilah engkau harus berjalan maju, beginilah engkau harus berjalan mundur, beginilah engkau harus memandang ke depan, beginilah engkau harus memandang ke samping, beginilah engkau harus menekuk anggota badan, beginilah engkau harus mengulurkan anggota badan, beginilah engkau harus mengenakan jubah luar, mangkuk, dan jubah dalam.’
mn67:16.7 Ia berpikir:
mn67:16.8 ‘Dahulu, ketika kami masih menjadi perumah tangga, kami menasihati dan membimbing orang lain.
mn67:16.9 Tetapi sekarang para bhikkhu ini—yang kira-kira seusia anak atau cucu kami—mengira mereka dapat menasihati dan membimbing kami!’
mn67:16.10 Ia melepaskan latihan dan kembali pada kehidupan rendah.
mn67:16.11 Ini disebut, para bhikkhu, seorang yang karena takut pada bahaya ombak, melepaskan latihan dan kembali pada kehidupan rendah.
mn67:16.12 ‘Bahaya ombak’ ini, para bhikkhu, adalah sebutan untuk kemarahan dan kekecewaan.