‹
MN 66

Laṭukikopamasutta

Khotbah tentang Perumpamaan Burung Puyuh

Majjhima Nikāya · Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang

KENALI DUNIA MN 66

Tokoh, tempat, dan gagasan utamanya

Bhikkhu Udāyī mengeluh tentang aturan latihan yang terasa membelenggu. Buddha menjawab lewat perumpamaan burung puyuh kecil yang terikat jerat ringan namun tetap terperangkap. Inilah Laṭukikopama Sutta.

Potret Buddha
TOKOH

Buddha

Guru yang menjelaskan perumpamaan burung puyuh untuk menjawab keluhan Udāyī.

TOKOH

Udāyī

Bhikkhu yang mengeluh tentang aturan latihan yang terasa membelenggu, dijawab Buddha lewat perumpamaan burung puyuh.

TEMPAT

Āpaṇa (negeri Aṅguttarāpa)

Hutan dekat kota Āpaṇa, tempat Buddha menyampaikan perumpamaan burung puyuh.

KONSEP

Jerat ringan bagi yang lemah batin

Sesuatu yang tampak sepele bisa jadi belenggu berat bagi batin yang lemah, seperti jerat rotan ringan yang mengikat burung puyuh kecil namun mudah ditembus gajah besar.

Visual pengantar Tiga Keranjang · bukan bagian dari teks kanonik.

Sinopsis singkat

Buddha mengenang bagaimana sebagian bhikkhu pernah keberatan ketika beliau meminta mereka meninggalkan makan pada malam hari. Dari persoalan sederhana tentang makanan, beliau menunjukkan bagaimana kemelekatan pada kesenangan kecil dapat menjadi penghalang besar. Perumpamaan burung puyuh yang terjerat tanaman rambat memperlihatkan bahwa sesuatu yang tampak ringan dapat menjadi belenggu mematikan bagi yang lemah, sedangkan sesuatu yang tampak berat tidak membelenggu orang yang kuat. Buddha lalu membedakan murid yang harus dibimbing dengan keras dari murid yang mudah diarahkan, dan membawa pembahasan menuju tingkat-tingkat meditasi di mana berbagai belenggu pengalaman secara bertahap dilepaskan.

mn66:8.1 seyyathāpi, udāyi, laṭukikā sakuṇikā pūtilatāya bandhanena baddhā tattheva vadhaṁ vā bandhaṁ vā maraṇaṁ vā āgameti.

mn66:8.2 Yo nu kho, udāyi, evaṁ vadeyya:

mn66:8.3 ‘yena sā laṭukikā sakuṇikā pūtilatāya bandhanena baddhā tattheva vadhaṁ vā bandhaṁ vā maraṇaṁ vā āgameti, tañhi tassā abalaṁ bandhanaṁ, dubbalaṁ bandhanaṁ, pūtikaṁ bandhanaṁ, asārakaṁ bandhanan’ti;

mn66:8.4 sammā nu kho so, udāyi, vadamāno vadeyyā”ti?

mn66:8.6 Yena sā, bhante, laṭukikā sakuṇikā pūtilatāya bandhanena baddhā tattheva vadhaṁ vā bandhaṁ vā maraṇaṁ vā āgameti, tañhi tassā balavaṁ bandhanaṁ, daḷhaṁ bandhanaṁ, thiraṁ bandhanaṁ apūtikaṁ bandhanaṁ, thūlo, kaliṅgaro”ti.

mn66:8.7 “Evameva kho, udāyi, idhekacce moghapurisā ‘idaṁ pajahathā’ti mayā vuccamānā te evamāhaṁsu:

mn66:8.8 ‘kiṁ panimassa appamattakassa oramattakassa adhisallikhatevāyaṁ samaṇo’ti?

mn66:8.9 Te tañceva nappajahanti, mayi ca appaccayaṁ upaṭṭhāpenti.

mn66:8.10 Ye ca bhikkhū sikkhākāmā tesaṁ taṁ, udāyi, hoti balavaṁ bandhanaṁ, daḷhaṁ bandhanaṁ, thiraṁ bandhanaṁ, apūtikaṁ bandhanaṁ, thūlo, kaliṅgaro.

TEKS DI TIGA KERANJANG
IndonesiaTersedia

Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.