Sāriputta
Murid utama yang menjelaskan perbedaan antara batin yang bernoda dan batin yang mengetahui noda itu.
Tanpa Noda
Sutta ini mengajak pembaca melihat noda batin dengan jujur. Yang berbahaya bukan hanya adanya noda, tetapi tidak menyadarinya; ketika noda dikenali, jalan untuk membersihkannya mulai terbuka.
Murid utama yang menjelaskan perbedaan antara batin yang bernoda dan batin yang mengetahui noda itu.
Lingkungan biara tempat para bhikkhu menerima ajaran dan memeriksa batin mereka sendiri.
Kotoran batin menjadi ringan untuk ditinggalkan ketika dilihat dengan jernih, bukan ditutup-tutupi.
mn5:32.1 Demikian pula, para sahabat, orang-orang yang kurang berkeyakinan itu, yang meninggalkan kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah bukan karena keyakinan melainkan demi mencari penghidupan, mereka licik, penipu, dan curang. Mereka angkuh, sombong, gelisah, banyak bicara, dan sembrono dalam ucapan. Mereka tidak menjaga pintu-pintu indra, tidak tahu batas dalam makan, dan tidak tekun dalam berjaga. Mereka tidak menghiraukan kehidupan pertapaan dan tidak sungguh-sungguh menghormati latihan. Mereka suka bermewah-mewahan dan lengah, menjadi pelopor dalam kemunduran, mengabaikan keterasingan, malas, dan lemah semangat. Mereka tidak waspada, tanpa pemahaman jernih, tanpa konsentrasi, dengan pikiran yang mengembara, bodoh, dan dungu. Terhadap mereka, Yang Mulia Sāriputta dengan uraian Dhamma ini, seolah-olah mengetahui hati demi hati, menembus dan mengupasnya.
mn5:32.2 Akan tetapi, terdapat para pemuda dari keluarga baik yang karena keyakinan telah meninggalkan kehidupan berumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah. Mereka tidak licik, tidak menipu, tidak curang, tidak sombong, tidak angkuh, tidak gelisah, tidak banyak bicara, dan tidak sembrono dalam berbicara. Mereka menjaga pintu-pintu indra, tahu batas dalam makan, tekun dalam berjaga, memperhatikan kehidupan pertapaan, sangat menghormati latihan, tidak berlebihan dan tidak lengah, tidak menjadi pemimpin dalam kemunduran, dan mengutamakan keterasingan. Mereka bersemangat dan bertekad bulat, memiliki perhatian yang tegak, memahami dengan jernih, terkonsentrasi, dengan pikiran terpusat, bijaksana, dan cerdas. Setelah mendengar penjelasan Dhamma ini dari Yang Mulia Sāriputta, mereka seolah-olah meminumnya dan melahapnya, baik dalam ucapan maupun pikiran, dengan berkata:
mn5:32.3 ‘Baik sekali, Tuan, bahwa ia menarik rekan-rekan seperjalanan spiritualnya menjauh dari yang tidak bermanfaat dan meneguhkan mereka dalam yang bermanfaat.’