‹
MN 55

Jīvakasutta

Khotbah kepada Jīvaka

Majjhima Nikāya · Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang

KENALI DUNIA MN 55

Tokoh, tempat, dan gagasan utamanya

Tabib Jīvaka bertanya kepada Buddha tentang tuduhan bahwa hewan disembelih khusus untuk memberi makan Buddha. Inilah Jīvaka Sutta — penjelasan tentang tiga syarat kesucian daging.

Potret Buddha
TOKOH

Buddha

Guru yang menjelaskan tiga syarat kesucian daging kepada tabib Jīvaka.

TOKOH

Jīvaka

Tabib istana yang mempersembahkan taman mangganya kepada Sangha, bertanya kepada Buddha tentang tuduhan penyembelihan hewan.

TEMPAT

Taman Mangga Jīvaka (Rājagaha)

Taman mangga milik tabib Jīvaka di Rājagaha, dipersembahkan untuk kediaman Buddha dan para bhikkhu.

KONSEP

Tiga syarat kesucian daging

Daging dianggap suci untuk dimakan seorang bhikkhu bila tidak dilihat, tidak didengar, dan tidak dicurigai bahwa hewan itu disembelih khusus untuknya.

Visual pengantar Tiga Keranjang · bukan bagian dari teks kanonik.

Sinopsis singkat

Jīvaka Komārabhacca, tabib Buddha, datang membawa pertanyaan tentang tuduhan bahwa hewan sengaja dibunuh untuk menyediakan makanan bagi Buddha dan para bhikkhu. Buddha menjelaskan bahwa seorang bhikkhu tidak boleh memakan daging bila ia melihat, mendengar, atau memiliki alasan mencurigai bahwa hewan itu dibunuh khusus untuk dirinya. Bila tiga keadaan tersebut tidak ada, makanan dapat diterima. Buddha kemudian menggambarkan seorang bhikkhu yang berdiam dengan cinta kasih dan tanpa keserakahan ketika menerima dana makanan. Percakapan ditutup dengan penjelasan bahwa orang yang sengaja membunuh atau menyebabkan hewan dibunuh demi menjamu Tathāgata atau murid-Nya justru menghasilkan banyak akibat buruk bagi dirinya sendiri.

mn55:8-10.1 “Idha, jīvaka, bhikkhu aññataraṁ gāmaṁ vā nigamaṁ vā upanissāya viharati.

mn55:8-10.4 upekkhāsahagatena cetasā ekaṁ disaṁ pharitvā viharati, tathā dutiyaṁ, tathā tatiyaṁ, tathā catutthaṁ.

mn55:8-10.5 Iti uddhamadho tiriyaṁ sabbadhi sabbattatāya sabbāvantaṁ lokaṁ upekkhāsahagatena cetasā vipulena mahaggatena appamāṇena averena abyābajjhena pharitvā viharati.

mn55:8-10.6 Tamenaṁ gahapati vā gahapatiputto vā upasaṅkamitvā svātanāya bhattena nimanteti.

mn55:8-10.7 Ākaṅkhamānova, jīvaka, bhikkhu adhivāseti.

mn55:8-10.8 So tassā rattiyā accayena pubbaṇhasamayaṁ nivāsetvā pattacīvaramādāya yena gahapatissa vā gahapatiputtassa vā nivesanaṁ tenupasaṅkamati; upasaṅkamitvā paññatte āsane nisīdati.

mn55:8-10.9 Tamenaṁ so gahapati vā gahapatiputto vā paṇītena piṇḍapātena parivisati.

mn55:8-10.11 ‘sādhu vata māyaṁ gahapati vā gahapatiputto vā paṇītena piṇḍapātena pariviseyyāti.

mn55:8-10.12 Aho vata māyaṁ gahapati vā gahapatiputto vā āyatimpi evarūpena paṇītena piṇḍapātena pariviseyyā’ti—

mn55:8-10.14 So taṁ piṇḍapātaṁ agathito amucchito anajjhopanno ādīnavadassāvī nissaraṇapañño paribhuñjati.

mn55:8-10.16 api nu so bhikkhu tasmiṁ samaye attabyābādhāya vā ceteti, parabyābādhāya vā ceteti, ubhayabyābādhāya vā cetetī”ti?

mn55:8-10.18 “Nanu so, jīvaka, bhikkhu tasmiṁ samaye anavajjaṁyeva āhāraṁ āhāretī”ti?

TEKS DI TIGA KERANJANG
IndonesiaTersedia

Terjemahan Indonesia Tiga Keranjang dibuat dengan bantuan AI dan disajikan bersama teks Pāli serta English untuk memudahkan pembacaan dan perbandingan.