
Buddha
Guru yang menjawab pertanyaan Jāṇussoṇi dan menceritakan bagaimana rasa takut di hutan ditaklukkan tanpa lari dari postur latihan.
Khotbah tentang Ketakutan dan Kengerian
Bhayabherava Sutta memperlihatkan bahwa tempat sunyi bisa terasa sulit, tetapi takut dan gentar ditaklukkan melalui perilaku yang bersih, kewaspadaan, dan samādhi.

Guru yang menjawab pertanyaan Jāṇussoṇi dan menceritakan bagaimana rasa takut di hutan ditaklukkan tanpa lari dari postur latihan.

Brahmana yang bertanya tentang sulitnya tinggal di tempat sunyi dan bagaimana para siswa mengikuti teladan Buddha.

Wihara di Sāvatthī tempat percakapan MN 4 berlangsung sebelum Buddha menjelaskan pengalaman latihan di tempat-tempat sunyi.

Ketika takut muncul saat berjalan, berdiri, duduk, atau berbaring, latihan dilanjutkan dalam postur itu sampai batin menjadi tenang.
mn4:17.1 Wahai brahmana, kemudian aku berpikir:
mn4:17.2 ‘Para petapa atau brahmana mana pun yang tidak waspada dan kurang memahami dengan jernih, yang menempati tempat tinggal terpencil di hutan dan belantara—karena cacat ketidakwaspadaan dan kurangnya pemahaman jernih, para petapa dan brahmana yang mulia itu mengundang ketakutan dan kegentaran yang tidak baik.
mn4:17.3 Tetapi aku tidaklah tidak waspada dan kurang memahami dengan jernih ketika menempati tempat tinggal terpencil di hutan dan belantara;
mn4:17.4 aku adalah seorang yang waspada.
mn4:17.5 Di antara para mulia yang waspada yang menempati tempat tinggal terpencil di hutan dan belantara, aku adalah salah satunya.’
mn4:17.6 Wahai brahmana, karena melihat dalam diriku sendiri sifat waspada ini, aku semakin bergembira berdiam di hutan.
Terjemahan Indonesia dibuat dengan bantuan AI oleh Bunbun.