
Buddha
Guru yang menjawab pertanyaan Jāṇussoṇi dan menceritakan bagaimana rasa takut di hutan ditaklukkan tanpa lari dari postur latihan.
Khotbah tentang Ketakutan dan Kengerian
Bhayabherava Sutta memperlihatkan bahwa tempat sunyi bisa terasa sulit, tetapi takut dan gentar ditaklukkan melalui perilaku yang bersih, kewaspadaan, dan samādhi.

Guru yang menjawab pertanyaan Jāṇussoṇi dan menceritakan bagaimana rasa takut di hutan ditaklukkan tanpa lari dari postur latihan.

Brahmana yang bertanya tentang sulitnya tinggal di tempat sunyi dan bagaimana para siswa mengikuti teladan Buddha.

Wihara di Sāvatthī tempat percakapan MN 4 berlangsung sebelum Buddha menjelaskan pengalaman latihan di tempat-tempat sunyi.

Ketika takut muncul saat berjalan, berdiri, duduk, atau berbaring, latihan dilanjutkan dalam postur itu sampai batin menjadi tenang.
mn4:14.1 Kemudian, brahmana, aku berpikir:
mn4:14.2 ‘Para petapa dan brahmana mana pun yang bersifat penakut dan berwatak cengeng, yang mendiami tempat-tempat tinggal terpencil di hutan dan belantara, justru karena sifat penakut dan cengeng itulah, para mulia itu menyebutnya sebagai ketakutan dan kengerian yang tidak baik.
mn4:14.3 Tetapi sesungguhnya aku ini bukanlah seorang yang penakut atau berwatak cengeng yang mendiami tempat-tempat tinggal terpencil di hutan dan belantara;
mn4:14.4 aku telah melenyapkan kegemeteran dan bulu roma yang berdiri.
mn4:14.5 Karena di antara mereka yang mulia yang telah melenyapkan kegemeteran dan bulu roma yang berdiri, yang mendiami tempat-tempat tinggal terpencil di hutan dan belantara, aku adalah salah satunya.’
mn4:14.6 Setelah merenungkan dalam diriku sendiri keadaan yang telah melenyapkan kegemeteran dan bulu roma yang berdiri ini, wahai brahmana, aku semakin memperoleh keyakinan untuk berdiam di dalam hutan.
Terjemahan Indonesia dibuat dengan bantuan AI oleh Bunbun.